Headline INFRASTRUKTUR

JTTS, Ternyata Banyak Area di Sumatra yang Masih Asing



single-image

INDOWORK.ID, JAKARTA: Tingkat keterisolasian Sumatra memang tak seperti wilayah Timur Indonesia. Namun dengan rasio luas wilayah serta jumlah populasi yang minim, banyak area di Sumatra yang juga sama asingnya bagi masyarakat umum.

Orang proyek merupakan cap bagi para pekerja konstruksi tol yang biasanya bekerja dalam kelompok besar untuk membangun berbagai macam infrastruktur darat. Namun di balik penyebutan tersebut, menyembul makna tentang mental beton karena kukuh dalam menghadapi setiap tantangan dan persoalan, terlebih lagi teruji dalam hal kesabaran.

Orang proyek ini seringkali dipaksa menikmati pekerjaan nun jauh di tempat-tempat terisolir, bahkan belum terjamah manusia.

Lingkungan asing sekaligus bahaya yang belum dikenali merupakan santapan para orang proyek, termasuk para Insan Hutama yang terjun dalam pembangunan Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS).

Tingkat keterisolasian Sumatra memang tak seperti wilayah Timur Indonesia. Namun dengan rasio luas wilayah serta jumlah populasi yang minim, banyak area di Sumatra yang juga sama asingnya bagi masyarakat umum. Bentang alam Sumatra merupakan tantangan tersendiri bagi para pekerja yang terlibat dalam pembangunan JTTS. Bukit-bukit batu kerap kali dijumpai pada titik perlintasan tol yang harus diatasi dengan berbagai cara.

Belum lagi area rawa yang tersebar di banyak wilayah, terutama terselip antara daerah pesisir pantai dan pegunungan. Pembangunan tol yang merambah Sumatra kerapkali menghadapkan pekerja dengan tantangan rimba raya, sebab perlintasan seringkali di kelilingi hutan serta wilayah konservasi.

Pengorbanan Para Pekerja

Salah satu kisah penuh perjuangan itu diceritakan Toni Hariadi, salah satu anggota tim pembangunan Ruas Tol Palembang-Indralaya. “Pada tahap awal kami harus menyusuri rute pembangunan dengan sampan atau getek, sampai kami harus mengalami sampan itu terbalik di tengah arus sungai, tidak sedikit yang panik,” ungkapnya.

Toni mengungkapkan peristiwa itu terjadi pada masa pra konstruksi, tepatnya sewaktu melakukan pembersihan ruas. Saat itu, tim Hutama Karya bersama Satpol PP dan perwakilan dari Provinsi Sumatra Selatan berencana ke lokasi perkebunan sawit yang telah dibebaskan namun masih terdapat kendala lapangan seperti patok dan plang. Untuk mengakses lokasi, tim harus mengangkut alat berat dan orang melalui sungai. Terdapat tiga perahu yang mengangkut orang, saat menyeberang itulah sampan kayu terbalik karena tidak kuat menahan arus. “Beruntungya tim K3 sangat sigap untuk menyelamatkan anggota tim di sampan ketiga tersebut,” kenang Toni.

Sebagai pekerja lapangan, setiap Insan Hutama mengerti betul risiko yang diambil. Bahkan kehidupan seperti “nomaden” seringkali dijalani tidak saja oleh para pekerja melainkan pula seluruh anggota keluarga. Selama perampungan Ruas Tol Palembang-Indralaya yang merupakan salah satu ruas perdana JTTS, proses pembangunan ditenggat cepat karena berbarengan dengan pelaksanaan Asian Games 2018. Meskipun tidak jauh dari pusat perkotaan, tenggat singkat tersebut membuat para pekerja untuk tetap berada di lokasi untuk memaksimalkan pekerjaan.

Pengerjaan Yang Tepat Dan Cepat

“Hampir semua tenaga kerja selalu siaga dan bekerja dengan pembagian tiga shift kerja, hal tersebut dilakukan untuk perampungan karena mau digunakan pada sesi Asian Games 2018 di mana Palembang juga masuk dalam kota penyelenggara. Apalagi saat itu musim penghujan yang menghambat pekerjaan,” ungkap Toni yang kini dipercaya sebagai Manajer Pengendalian Pelaksanaan Ruas Tol Prabumulih-Muara Enim.

Pergulatan di lapangan bagi para pekerja itu dibenarkan Deny Kusumanegara, salah satu anggota tim pembangunan Ruas Tol Palembang-Indralaya yang kini ditugaskan mensukseskan pembangunan Ruas Tol Sigli-Banda Aceh. “Kami harus bekerja tepat dan cepat, mengawasi terus menerus agar tidak terjadi sliding, sedangkan tenggat perampungan dipatok singkat,” kenangnya. Beruntungnya, target pembangunan yang memaksa para pekerja untuk berbulan lamanya tidak berkumpul keluarga, diatasi dengan teknologi gawai canggih seperti sekarang. “Jadi hampir setiap hari itu ya tetap komunikasi dengan keluarga, karena memang tidak bisa pulang,” kata Deny.

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published.

Berita Lainnya