Headline Humaniora

SCBD Ala Sudirman, Citayam, Bojonggede, Depok, Harus Melampaui Viral



single-image

INDOWORK.ID, JAKARTA: Saat-saat sekarang, Jeje, Bonge, dan Kurma tengah mereguk popularitas. Berkat spontanitas khas anak muda, mereka berhasil memblokir sorotan dari sekadar selebritas sosial media yang telah mapan, menjadikan ekspresi natural anak-anak pinggiran.

Kehadiran yang awalnya hanya beberapa gelintir anak CBD (Citayam, Bojonggede, Depok) di sekitar area S (Stasiun Sudirman), membungkus letupan baru bernama SCBD.

ANAK PINGGIRAN JAKARTA

Ramai-ramai anak pinggiran Jakarta kemudian mengikuti jejaknya. Mereka, adalah generasi native digital yang peka pada penampilan dan pemandangan eksotik maupun estetik.

Maka lantas muncul istilah Citayam Fashion Week menyusul bekennya SCBD. Busana anak-anak muda ini beragam, ada yang tampil parlente, sederhana, hingga seadanya. Semua menjadikan daerah elit Ibu Kota sebagai rendezvouz beragam latarbelakang dan beraneka motif.

Spontanitas simultan yang cair inipun banyak menarik daya tilik teori-teori sosial. Ada yang bilang ini merupakan respon perebutan ruang publik jelata terhadap orang berpunya, maklum bilangan Sudirman adalah jantungnya perekonomian nasional.

Bahkan ada yang menyebut inilah wujud perlawanan kelas. Dari segerombol anak muda yang mencoba melawan dominasi sistem kerja dan kapital, di tengah hiruk pikuk Sudirman, Bonge dkk. seakan menertawakan nasib para pekerja dan profesional yang dikerangkeng hasrat metropolitan.

Riuh dukungan terhadap eksistensi SCBD termasuk Citayam Fashion Week terus bergulir. Spontanitas anak muda yang cair memicu pengkanalan, dari sekadar menawarkan simpati dan motivasi agar sama besar viralnya, hingga terbuka kemungkinan aksi curi panggung politik.

Sebaliknya, dari sekian tafsir penjelas fenomena SCBD dan Citayam Fashion Week, pendekatan struktural agaknya kurang menjual untuk ikut viral.

PERAN SENTRAL TRANSPORTASI

Anies Rasyid Baswedan

Salah satu makna SCBD adalah pernyataan sikap anak muda, entah disadari atau tidak. Mobilitas SCBD tidak terlepas dari peran sentral moda transportasi yang menghubungkan SCBD, yakni KRL.

Dengan membayar murah tiket PSO, anak-anak muda ini sebagaimana penglaju harian, bisa menikmati layanan KRL yang lebih rapih, aman, dan cukup nyaman saat ini.

Andaikata Bonge dkk menjadi penglaju pada periode sebelum Ignasius Jonan melakukan banyak perubahan, beraksi di “meltingpot” Ibu Kota harus melewati banyak tantangan. Mungkin, baru sampai Manggarai, wajah dan pakaian mereka sudah kusut masai.

Apalagi sewaktu jam-jam sibuk seperti pagi dan sore hari, Jeje mungkin akan terhimpit beragam barang dagangan yang diangkut penumpang asal Citayam, Bojonggede, dan Depok.

Dagangan itu semarak seperti jambu merah hingga belimbing ranum. Kedua komoditas ini menempatkan CBD di era kejayaan buah-buah lokal sebagai sentra ternama. Semarak sebagaimana lagu anak-anak dulu, “Pepaya, Mangga, Pisang, Jambu dibawa dari Pasar Minggu.”

REFORMASI KERETA API

Reformasi layanan kereta api membuat wajah KRL Jakarta-Bogor yang melintas CBD lebih kalem. Jangankan produk kursi anyaman bambu, barang dagangan buah-buahan khas jambu merah hingga belimbing pun kini tiada lagi memeriahkan wajah kesibukan stasiun.

Dari beberapa kesaksian para mantan bos buah dan pemilik sawah di sekitar CBD, dahulu angkutan KRL jadi andalan karena murah dan jangkauan cukup jauh. Para pekebun langsung memasarkan buah hingga ke seantero Jakarta memanfaatkan perjalanan KRL. Kini kisah itupun usai.

Seiring dengan itu, banyak lahan perkebunan dan persawahan daerah penyangga Ibu Kota beralih sebagai perumahan. Berbagai aset properti menduduki kebun dan sawah yang terpaksa dilego pemilik, inilah yang kemudian diburu para pekerja urban dari Jakarta.

Melihat lebih jauh fenomena CBD, dengan melacak jejak muasal generasi Bonge bisa jadi inilah cara generasi muda berbicara. Andaikata dulu kala KRL mengangkut generasi tua CBD yang notabene pedagang dan pekebun, sekarang eranya generasi Bonge yang berstatus anak muda yang bersiap menjadi sekrup sistem kerja era digital.

Dalam sesaat, fenomena SCBD layak dinikmati sebagai ekspresi anak muda. Namun jika seluruh anak muda berniat alih profesi sebagai produsen konten, ini merupakan problem ilusi yang dilanggengkan ketimpangan struktural.

NGGAK KENAL GUBERNUR

Ridwan Kamil

Anies Baswedan menangguk popularitas dalam fenomena anak-anak SCBD ini. Namun ketika para pelaku Citayam Fashion Week ditanya siapakah nama Gubernur DKI Jakarta, mereka menjawab: Ridwan Kamil.

Anis hanya tersenyum mendapatkan jawaban itu. “Ini risiko kalau sama orang ganteng,” kata Anies.

Ya, meskipun aktivitas anak-anak Depok yang berdomisili di Jabar sudah pindah ke DKI, tapi gubernur mereka merasa masih di bumi priyangan. “Eh tong, ini udeh bumi Betawi,” begitu biasanya engkong mengingatkan anak-anak Depok yang nongkrong di Ibu Kota itu.

Berita Lainnya