Headline Humaniora

Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan Bakal Makin Semenggah



single-image

INFRASTRUKTUR.CO.ID, JAKARTA: Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan bakal makin semenggah. Apa lagi setelah ditinjau langsung oleh Deputi Gubernur Bidang Kebudayaan dan Pariwisata DKI Jakarta Marullah Matali.

Modular Synthwave VST Crack 

“Saya berharap Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan makin semenggagh,” katanya.

Tentu saja seluruh Anggota Forum Pengkajian dan Pengembangan Budaya Betawi terbahak mendengarnya. “Saya sering ke sini berdua istri, nyetir sendiri,” ia memulai kisahnya ketika silaturahmi dengan Anggota Forum Jibang PBB di Setu Babakan, Srengsengsawah, Jakarta Selatan, Rabu, 18 Januari 2023.

Lalu mantan Sekda DKI Jakarta itu melanjutkan ceritanya. Ketika mau makan di pinggiran setu, ia tak menemukan makanan yang terasa enak di lidah. “Rasanya kurang semenggah,” ujar anak Betawi yang pernah menjadi wali kota Jakarta Selatan itu.

Ketua Forum Jibang PBB Abdul Syukur mengatakan bahwa perkembangan Perkampungan Budaya Betawi dalam beberapa tahun terakhir ini belum signifikan. Ia berharap kehadiran Marullah bisa membawa angin segar untuk menyelesaikan segala persoalan.

9 HAL PENTING

Suasana Rapat Forum Jibang dan Marullah Matali

Menurut Syukur, ada sembilan hal penting yang menjadi prioritas:

Pertama, perlu ada master plan yang dapat menjadi panduan pengelola dalam pembangunan Perkampungan Budaya Betawi.

Kedua, Zona C yang kini bernama Kampung Ismail Marzuki agar segera dibuka untuk umum.

Ketiga, perlu dibentuk kelurahan tersendiri bagi Perkampungan Budaya Betawi.

Keempat, perlu membuat panggung bagi warga.

Kelima, penertiban warung-warung di bantaran Setu Babakan yang tampak berantakan.

Keenam, penguatan lembaga Unit Pengelola Kawasan.

Ketujuh, pembangunan Sekolah Menengah Kebudayaan Negeri (SMKN) 74.

Kedelapan, pembebasan lahan.

Kesembilan, pengawasan dan pengendalian pembangunan.

“Saat ini ada sekitar 50 town house di kawasan PBB yang tidak sesuai bangunan bercirikan Betawi,” kata Beky Mardani, Ketua Lembaga Kebudayaan Betawi yang juga Anggota Forum Jibang.

Abdul Syukur didampingi oleh Sekretaris Indra Sutisna dan anggota lainnya yaitu Sibroh Malisi, Rusdi Saleh, Yoyo Muchtar, Yahya Andi Sputra, Sofyan Murtadho, Rudi Saputra, Roosyana Hasbullah, Lahyanto Nadie, dan Apriansyah.

SKALA PRIORITAS

Meninjau Kampung Ismail Marzuki

Menanggapi keluhan itu Marullah menjelaskan bahwa ada skala prioritas dalam menangani segala persoalan yang diungkapkan oleh Forum Jibang. “Kita mulai dari pembenahan. Perlu ada kekuatan yang khas sehingga banyak pengunjung yang datang ke sini,” katanya.

Ia mencontohkan kisahnya tentang makanan yang kurang semenggah tadi. Jika ada makanan yang enak dan membuat orang ketagihan niscaya pengunjung akan kembali lagi dan ikut mempromosikan Perkampungan Budaya Betawi. “Soal warung ini akan dibina oleh Dinas UMKM,” janjinya.

Prioritas lain adalah mempermudah akses ke lokasi, peruntukan lahan, dan pembangunan SMKN 74. Namun tidak semua catatan Forum Jibang disetujui. Untuk pembebasan lahan misalnya, tidak ada anggaran untuk tahun ini. “Sedang tentang pembentukan kelurahan tersendiri, silakan ajukan.”

Ia juga langsung menugaskan Camat Jagakarsa Santoso untuk membantu Kepala UPK Imron dalam membenahi Setu Babakan.

Marullah yang didampingi Kepala Dinas Kebudayaan Iwan Henry Wardhana dan Kepala Dinas Pendidikan Nahdianamenyatakan akan membahas masalah yang disampaikan oleh Forum Jibang. “Segera kami akan tindaklanjuti,” janjinya.

HADIAH BUKU

Lahyanto Nadie menjelaskan buku Jejak Permanen Anies Baswedan

Seusai diskusi, Syukur memberikan buku kepada Marullah karya anggota Forum Jibang yaitu Betawi Megapolitan Merawat Jakarta, Palang Pintu Indonesia karya Yahya Andi Saputra dan Jejak Permanen Anies Baswedan, Signature untuk Jakarta yang ditulis oleh  Lahyanto Nadie.

Seusai rapat, Marullah disuguhi makan siang dengan menu khas Betawi a.l. pecak gurame, sayur masak asem, semur jengkol, lalapan, ikan jambrong, dan sambel. “Nah ini makanan baru semenggah,” ujarnya sambil tertawa.

Sesuai janjinya, Marullah bersama rombongan pun meninjau Kampung Ismail Marzuki dan shalat berjemaah di mushalla. Ketika pamit, ia berdoa. “Semoga kita semua semakin semenggah.”

Kata semenggah menjadi perbincangan hangat hari itu. Menurut Kamus Dialek Jakarta karya Abdul Chaer, semenggah atau semengge artinya bermanfaat.

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published.

Berita Lainnya