Headline Humaniora

Karifan Lokal Jadi Bahasan Utama Buku Betawi Megapolitan



single-image

INDOWORK.ID, JAKARTA: Indonesia memancangkan motto ‘bhineka tunggal ika’, beraneka ragam tapi satu tujuan. Keberagaman ini merupakan manifestasi gagasan dan nilai sehingga saling menguat untuk meningkatkan wawasan dalam saling apresiasi.

Kebhinekaannya menjadi bahan perbandingan untuk menemukan persamaan pandangan hidup yang berkaitan dengan nilai kebajikan dan kebijaksanaan.

Menilik data sensus penduduk Badan Pusat Statistik RI, terdapat sekitar 1.000 etnik yang mendiami 16.000 pulau yang terhampar dari Sabang sampai Merauke. Konon hanya 15 etnik  yang mempunyai jumlah penduduk lebih dari satu juta orang. Jumlah itu jelas memperlihatkan multietnik dan tentu saja multikultur. Sungguh merupakan kekayaan tak ternilai dari negara yang kini berpenduduk sekitar 278 juta jiwa.

MENYUSUN PRANATA

Ondel-ondel menjadi ikon Jakarta

Etnik Betawi mendiami wilayah Jawa bagian barat, khususnya kawasan Jakarta dan sekitarnya, dikenal dengan sebutan Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi). Seperti etnik lain, Betawi pun mengembangkan pola hubungan sosial yang disusun dalam pranata dan adat istiadatnya sendiri. Pranata itu mengatur hubungan antarsesama dan antarlingkungan demi menciptakan stabilitas, ketenteraman, dan keteraturan hidup.

 

Pada tahap operasionalisasi, terlihat kemudian wujudnya berupa kearifan lokal yang mapan, seperti nilai kemanusiaan, kebersamaan, persaudaraan, ketauladanan, dan sebagainya. Lebih jelas lagi tercermin pada kegiatan kemasyarakatan sehari-hari. Misalmya, gotong royong, kebersihan lingkungan, memelihara sungai, menghormati setu (danau), bertani, berkebun, dan beternak.

Contoh lainnya adalah membuat rumah, mengembangkan tradisi jual-beli, memproduksi obat dan teknik pengobatan. Begitu pun dalam pengamanan kampung, mengembangkan kuliner, menciptakan jenis-jenis hiburan, pantangan-pantangan, hingga bagaimana berkomunikasi dengan arwah leluhur serta makhluk halus lainnya.

KEARIFAN LOKAL

Topeng Betawi dalam adegan penuh humor

Untuk memperjelas takrif atau definisi kearifan lokal, mari kita lihat pertama-tama arti secara harfiyah. Dalam pengertian kamus, kearifan lokal (lokal wisdom) terdiri atas dua kata: kearifan (wisdom) dan lokal (lokal).

Dalam Kamus Inggris Indonesia, John M. Echols dan Hassan Syadily, lokal berarti setempat, sedangkan wisdom (kearifan) sama dengan kebijaksanaan. Secara umum  lokal wisdom (kearifan setempat) dapat dipahami sebagai gagasan-gagasan setempat (lokal) yang bersifat bijaksana dan penuh kearifan, Semua hal yang bernilai baik, tertanam dan diikuti oleh anggota masyarakatnya.

Dalam disiplin antropologi dikenal istilah lokal genius. Antropolog membahas panjang lebar pengertian lokal genius ini. Haryati Soebadio (Ayatrohaedi, 1986: 18-19), mengatakan bahwa lokal genius sama dan sebangun dengan cultural identity. Inilah identitas/kepribadian budaya bangsa yang menyebabkan bangsa itu mampu menyerap dan mengolah kebudayaan asing sesuai watak dan kemampuan sendiri.

Sementara Moendardjito (Ayatrohaedi, 1986: 40-41), mengatakan bahwa unsur budaya daerah potensial sebagai lokal genius karena telah teruji kemampuannya untuk bertahan sampai sekarang. Ciri-cirinya adalah, mampu bertahan terhadap budaya luar dan memiliki kemampuan mengakomodasi unsur-unsur budaya luar. Selain itu mempunyai kemampuan mengintegrasikan unsur budaya luar ke dalam budaya asli, kemampuan mengendalikan dan memberi arah pada perkembangan budaya.

Maka jelaslah, pakar ilmu-ilmu sosial menangkap perilaku pola hidup masyarakat  tradisional dengan mendefinikan menjadi kearifan lokal. Mereka mengatakan, kearifan lokal adalah cara dan praktik yang dikembangkan oleh sekelompok masyarakat, yang berasal dari pemahaman dan interaksi mendalam akan lingkungan tempat tinggalnya.

Kearifan lokal berasal dari masyarakat untuk masyarakat yang dikembangkan dari generasi ke generasi, menyebar, menjadi milik kolektif, dan tertanam di dalam cara hidup masyarakat setempat. Masyarakat memanfaatkan tata atur kearifan lokal  untuk menegaskan jatidiri dan bertahan hidup.

*) Ditulis oleh Budayawan Yahya Andi Saputra 

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published.

Berita Lainnya