Humaniora

Hidup Tanpa Listrik di NTT, Kegelapan dalam Kemiskinan



single-image

INDOWORK, JAKARTA: Kondisi kehidupan masyarakat dengan tingkat elektrifikasi rendah, atau tanpa listrik sama sekali, sungguh memprihatinkan. Di NTT, misalnya, yang tingkat elektrifikasinya paling rendah di Indonesia, listrik menjadi sesuatu yang sangat mewah.

Untuk merasakan suasana kehidupan dan cara pandang masyarakat di wilayah pedesaan yang tak mengenal listrik, penulis mencuplik kisah hidup Mali , seorang anak lelaki yang terlahir pada akhir dekade 1960-an di Bengga, sebuah kampung terpencil di pesisir pantai selatan, tengah pulau Flores, Nusa Tenggara Timur.

Detik-detik kelahiran Mali penuh dengan aroma mistik. Keluarga Mali tinggal di sebuah rumah panggung berukuran 42 m2 yang disekat dengan anyaman bambu menjadi tiga ruangan. Rumah itu agak terpisah dari para tetangga, dan hanya sepelemparan batu jauhnya dari bibir pantai. Malam makin larut, ibunda Mali masih mengerang kesakitan ditemani seorang dukun bersalin yang mulutnya terus komat-kamit memohon pertolongan Ilahi.

Ruang persalinan itu tanpa dipan. Beberapa lembar tikar dari pandan langsung dibentang di atas bambu yang dicincang. Di salah satu tiang, ditahtakan lampu minyak yang terbuat dari kaleng bekas. Nyala lampu itu berkibar kian kemari, redup, dan terang silih berganti, akibat hembusan kencang angin laut. Lewat tengah malam. Suara tangisan pertama Mali pun pecah, berlomba dengan suara deburan ombak.

Kala usianya menginjak dua bulan, Mali diboyong sang ayah yang adalah seorang guru Sekolah Dasar pindah ke Malasera, ke sebuah kampung kecil yang letaknya sekitar 60 km arah Timur Laut. Perjalanan melalui laut, menggunakan sampan nelayan itu terpaksa dilakukan malam hari untuk menghindari teriknya matahari.

KAMPUNG DI TEPI SUNGAI
Malasera kampung kecil yang letak di pinggiran sungai. Di pinggiran kampung ada kubangan kerbau, yang dihuni ribuan kodok. Jika turun hujan, ribuan kodok itu pun bernyanyi: kung kong, kung kong, kung kong… Kedengarannya seperti suara musik.

Sebagai warga kampung yang dikitari pebukitan tinggi yang berhutan lebat, Mali kecil benar-benar ibarat ‘katak yang hidup dalam tempurung’. Dalam kesehariannya ia hanya berkutat dengan lingkungan alam di sekitarnya.

Jika ingin berenang atau pun makan udang bakar, Mali dan teman-teman tinggal turun ke kali. Jika ingin main perang-perangan, tinggal mengubah tulang daun pisang menjadi senjata. Jika ingin punya radio mainan, cukup menangkap kumbang pohon lalu menaruhnya dalam dus korek api. Kumbang akan mengeluarkan suara gemerisik, ketika Mali menyentilnya dengan lidi.

MAIN SEPAK BOLA

Jika ingin main sepak bola, ia dan teman-teman hanya perlu membungkus daun pisang kering atau sabut kelapa dan merajutnya dengan tali gebang untuk dijadikan bola. Waktu ada pesta adat, Mali dan teman-temannya akan mendapat bola istimewa terbuat dari kantong kemih kerbau yang dinjak-injak hingga tipis lalu ditiupkan, lalu dibalut dengan daun pandan.

Bola ini bisa melambung tinggi dan melenting beberapa kali, mirip bola dari toko. Ketika bulan purnama, halaman kampung jadi terang benderang, mirip gelora yang disinari lampu sorot dari keempat sudutnya. Mali dan teman pun bisa bermain apa saja, mulai dari sepak bola, saling dorong alu, rangku alu, bentik, atau pun gasingan.

Alat bantu yang membuat Mali bisa berimajinasi tentang dunia luar yakni majalah misi, Kunang-Kunang (untuk anak-anak) yang nongol hanya sekali dalam sebulan. Juga pesawat radio. Dari radio, telinga Mali akhirnya akrab dengan siaran radio Australia dari Melbourne yang selalu dibuka dengan suara unik burung Kookaburra. Juga, lagu-lagu kondang dari grup Koes Plus, ataupun dari penyanyi duet Muchsin dan Titiek Sandhora.

Perkenalan pertama Mali dengan listrik, terjadi ketika ia duduk di kelas 3 Sekolah Dasar, saat menemani pamannya Frans Sale, menjual buah jeruk Cina (Mandarin) dan pisang Brangan ke kota Ende, sekitar 50 km dari kampungnya.

Ende itu pusat misi Katolik di pulau Flores. Sejak sekitar 1920-an, para misionaris Eropa sudah membangun infrastruktur listrik dan telepon serta penerbitan di sana. Kembali dari Ende, wajah Mali berbinar-binar menceritakan pengalamannya tentang ‘misteri’ lampu listrik yang terang benderang.

Rasa kagum Mali akan listrik kian menjadi ketika ia tamat SD dan masuk asrama Seminari pada 1981. Di halaman Seminari ada lampu taman, seukuran bola basket besarnya. Ketika melihat lampu taman itu menyala, Mali berbisik ke teman di dekatnya penuh rasa kagum. Katanya, “Ndoe, ini lampu besar sekali ko. Seperti bulan purnama saja ya?”

Ya, bagi Mali dan anak-anak di kampung-kampung di Flores,–tentu juga di pulau-pulau lainnya di wilayah Nusantara–listrik itu sama saja dengan ‘magic’, suatu hal yang tak masuk akal sehat. Bagi mereka, cahaya terang benderang tanpa ada asap dan material yang terbakar, itu mustahil. Itu hanya bisa terjadi dalam cerita mistik orang tua-tua, tentang cahaya yang keluar dari bokong jin yang terbang melintasi kampung di malam gelap.

Hidup tanpa listrik tak hanya membuat masyarakat tetap tenggelam dalam suasana hidup yang mistik, akan tetapi juga terpasung kebodohan dan kemiskinan. Tanpa listrik, anak-anak desa seperti Mali nyaris tak pernah belajar di rumah, khususnya di waktu malam.

Apabila harus mengerjakan PR, dia terpaksa menyalakan lampu pelita dan harus siap menerima kenyataan bahwa lobang hidungnya dipenuhi jelaga. Tanpa listrik, anak-anak desa juga tak punya peluang untuk menonton tv, sumber informasi, ilmu pengetahuan, dan hiburan. Tanpa listrik, para ibu rumah tangga tak kuasa menyimpan sayuran, daging, dan susu segar untuk waktu lama.

Dengan demikian, pola asupan makan anak-anak di desa sangat tak teratur dan jauh dari standar kesehatan. Contoh, tatkala persediaan daging segar banyak, anak-anak makan daging sepuasnya. Setelah itu, mereka mungkin tak pernah makan daging berbulan-bulan lamanya.

Jadi, listrik memang erat dengan kebodohan, kemiskinan, dan ketaksehatan. Makanya, sungguh masuk akal jika Robert Chambers (2006) mengatakan bahwa kemiskinan adalah suatu integrated concept yang memiliki lima dimensi, yaitu:
1). kemiskinan (proper)
2). ketidakberdayaan (powerless)
3). kerentanan menghadapi situasi darurat (state of emergency)
4). ketergantungan (dependence)
5). keterasingan (isolation) baik secara geografis maupun sosiologis.

Menurut Chambers, hidup dalam kemiskinan bukan hanya hidup dalam kekurangan uang dan tingkat pendapatan rendah, tetapi juga banyak hal lain, seperti: tingkat kesehatan, pendidikan rendah, perlakuan tidak adil dalam hukum, kerentanan terhadap ancaman tindak kriminal, ketidakberdayaan menghadapi kekuasaan, dan ketidakberdayaan dalam menentukan jalan hidupnya sendiri.

Pengalaman Mali dan anak-anak di desa tentu berseberangan dengan pengalaman anak-anak yang terlahir di kota. Bagi orang kota, listrik itu suatu fenomena yang lumrah. Mereka tak pernah mengagumi, apalagi mempertanyakannya. Sekali pun mereka mungkin juga tak paham cara kerja listrik itu.

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published.

Berita Lainnya