Headline Humaniora

Harry Tanugraha: Bertahan Dalam Pergumulan Pandemi Covid-19



single-image
Sumber: unicef.org

INDOWORK.ID, JAKARTA: Hampir 2 tahun sudah COVID-19 travelling dari Wuhan China ke seluruh dunia dan belum tahu jelas asal usulnya.

Menurut studi The Lancet pada akhir Januari 2020, pasien pertama mulai menunjukkan gejala pada 1 Desember 2019. Virus corona baru ini menyebar bukan hanya di daratan China, tetapi mulai menjalar kewilayah Eropa dan Amerika Serikat.

Belakangan sebuah studi menemukan kemungkinan COVID-19 sudah menyebar lebih awal di Amerika Serikat beberapa minggu sebelumnya.  Lembaga CDC (Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit) Amerika Serikat menemukan antibodi COVID-19 dalam banyak donor darah yang diambil antara 13-12-2019 hingga 17-01-2020.

Presiden Joko Widodo bersama Menteri Kesehatan mengumumkan kasus pertama di Indonesia pada 02-03-2020. Kasus menimpa dua wanita warga Depok, Jawa Barat.

Direktur Jenderal WHO (Organisasi Kesehatan Dunia) secara resmi mengumumkan bahwa virus corona yang merebak keseluruh dunia sebagai pandemik global tanggal 11-03-2020.

Dalam ilmu kesehatan penyakit menular, dikenal istilah endemik, epidemik, dan pandemik. Penyakit endemik adalah penyakit yang terus menerus ada disuatu daerah tertentu dan tidak menyebar dengan cepat ke daerah lainnya (Malaria, DBD, dan Kaki Gajah).

Suatu penyakit dikatakan sebagai epidemik, apabila sudah mewabah ke lebih dari satu wilatah dengan tingkat penyebaran cepat dan sulit diprediksi. Lalu jika penyebarannya meluas dengan cepat keseluruh dunia, kondisi ini disebut pandemik.

BUKAN HILANG MALAH BERMUTASI
Sumber: lingkunganhidup.jakarta.go.id

Setelah lebih satu setengah tahun, virus corona malahan bermutasi. Hingga saat ini telah terdapat sepuluh varian yang menyebabkan penyebarannya makin tidak dapat dikendalikan.

Varian COVID-19 tersebut yang ditemukan di Brazil (P1-Gama dan P2-Zeta), USA (B1427/29-Epsilon dan B1526-Iota), India (B16172.Delta dan B16171-Kappa), Inggris (B.1.1.7 – Alpha dan B1525- Eta), Afrika Selatan (B1.351-Beta), Filipina (P3-Theta). Varian baru inilah yang saat ini banyak menyebar keberbagai negara, termasuk Indonesia.

Virus varian baru ini menyebar dengan berkecepatan tinggi dan tanpa menimbulkan gejala, termasuk dapat menular meskipun telah memakai masker 1 lapis dan juga terhadap orang2 yang telah divaksin. Indonesia pernah tercatat beberapa kali sebagai negara terbanyak terpapar perhari (lebih dari 50.000) dan indeks kematian tertinggi di dunia (3,4% dibanding rata2 dunia 2,39%). Harry Tanugraha mengucap syukur dengan sikap cepat dan tegas Pemerintah RI memperketat Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat dan mempertegas protokol kesehatan.

INDONESIA KEWALAHAN
Sumber: semarangkota.go.id

Per 3 Agustus 2021, Yang terpapar perhari di Indonesia telah menurun menjadi 33.900 orang, masih masuk 5 besar didunia (USA 95658, India 42.565, Iran 39.900, Indonesia 33.900 dan Brazil 32.316).

Bulan lalu Indonesia mengalami “kehebohan”. Bukan hanya keterisian tempat tidur sudah mendekati ambang batas penuh dan harus ditambah berbagai fasilitas kesehatan, termasuk memanfaatkan tenda-tenda darurat dan gedung lain. Alat kesehatan dan obat-obatan mulai langka dan terjadi antrean pengisian tabung oksigen.

Dalam situasi demikian, patut mendapat dua acungan jempol bagi berbagai petugas yang terus mengabdikan dirinya untuk kemanusiaan. “Puji Syukur pula saat ini Indonesia mendapatkan pemimpin dan aparat yang rela dan berani berjibaku mempertaruhkan pikiran dan tenaga demi terkendalinya virus,” ucap Harry Tanugraha dalam tulisannya (04/08/2021).

HIDUP SUSAH, MATI PUN MAHAL

Biaya rata-rata untuk perawatan dan pengobatan untuk 15 hari sekitar Rp184 juta. Biaya ini akan meningkat, jika yang terpapar harus dirawat lebih lama. Demikian pula untuk perawatan/pengobatan dirumah sakit swasta dengan biaya paling sedikit Rp500 juta.

Bukan hanya biaya perawatan/pengobatan, biaya pemakaman serta biaya untuk 2x vaksin semua menjadi beban pemerintah. Pemerintah pusat telah menghabiskan dana lebih dari Rp800 triliun untuk kesehatan dan terjaganya kebutuhan dasar hidup warga.

Biaya pemakaman untuk yang meninggal terpapar COVID-19, rata-rata Rp4 juta. Di DKI Jakarta saja untuk biaya pemakaman telah menghabiskan dana lebih dari Rp13.02 miliar.

Dalam kondisi yang sangat sulit ini, masih ada suara yang tidak “menghargai” dan juga ada yang “mengail diair keruh” dengan cara menaikkan harga, meminta uang ‘lelah’, menipu dengan berbagai cara.

Dengan meningkatnya kematian, usaha yang terkait dengan pemakaman dan kremasi mendapatkan “durian jatuh”. Pernah heboh untuk biaya kremasi ada “tarif memenggal leher” hingga Rp80 juta. Biasanya biaya hanya sekitar Rp15 juta – Rp45 juta. Untuk pemakaman ditempat ‘berbisnis” dikenakan berbagai tarip. Untuk ukuran makam 1.5 x 3 m dikenakan tarip paket hingga 50jutaan, sedangkan untuk luas sekitar 15 m2 dikenakan tarip paket Rp450juta. “Bukan hanya untuk biaya kehidupan yang susah, tetapi biaya kematian dan pemakamanpun lebih berat,” ucap Harry.

Harry menceritakan mitos mengenai peti mati. Menurut cerita keluarga yang membeli, harga peti mati ini tidak boleh ditawar, karena dapat menghambat kelancaran ‘perjalanan’ orang yang meninggal.

Jika ditanya mengapa dan bagaimana serta kemana terhambatnya, jawabannya sama: ”itu sudah jadi tradisi”. Ada pula yang “bisnis” memandikan/menghias jenazah “mengharuskan” pakaian lengkap dan sepatu yang dipakai jenazah harus baru, meskipun nantinya dikremasi.

Di negara maju Amerika Serikat, untuk menekan biaya pemakaman, dapat memilih peti mati yang terbuat dari corrogated hardboard, apalagi untuk dibakar. Tetapi banyak warga, terutama di negara berkembang termasuk Indonesia masih mementingkan “gengsi/pamor”, sehingga kalau perlu berhutang dulu agar penampilan yang mati lebih “gah”.

TETAP BERSYUKUR DI TENGAH VIRUS CORONA
Harry Tanugraha

Bagi kita semua yang sehat dan sudah divaksin patut disyukuri dan tetap patuh pada prokes. Satu hal penting, semua aktivitas yang dilakukan hendak nya dapat membawa kondisi fisik dan mental kita tetap terjaga baik dan tidak mengganggu sistem imunitas tubuh. Mengonsumsi banyak buah dan sayur merupakan satu pola hidup sehat. Lakukan kegiatan yang kreatif bersama anggota keluarga dengan ceria. Jangan lupa lakukan olahraga dengan menggerakkan anggota tubuh dengan teratur dan porsi yang cukup.

Kurangi membaca/mendengarkan berita2 yang negatip, lakukan hubungan sesama dengan pikiran positif. Setiap manusia, pasti sudah melekat rancangan Tuhan. Dalam menjalani hidup ini tidak selalu lancar, tetapi penuh dengan berbagai cobaan dan pergumulan.

Seburuk apapun pergumulan hidup kita, yakinlah Tuhan berjanji akan memberikan hari depan yang penuh harapan. “Sebab AKU ini mengetahui rancangan2 apa yang ada padaKU mengenai kamu, demikianlah firman Tuhan, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan” (Yeremia 29:11).

Dalam kondisi serba tidak menentu saat ini, ingat pesan leluhur: Jangan takut mati, jangan cari mati, dan juga jangan tunggu mati. Tetapi tetap bersyukur, tetap tahu diri, bebas lepas, dan tetap cerah-ceria. Niscaya hidup senang dan matipun tenang.

Baca juga: Harry Tanugraha: Pembenaran Diri Sendiri Mewarnai Kehidupan Saat Ini

Leave a Comment

Your email address will not be published.

Berita Lainnya