Figur Headline Humaniora

Endy Subiantoro, Main Bola Pakai Celana Panjang dan Jadi Komisaris



single-image
Endy dan anaknya, Nicola Nur Sekar Ayu dan Salsa Putri Dita Karunia

INDOWORK.ID, JAKARTA: Pada 20 Maret 2023 pagi hari, saya mengontak Endy Subiantoro. “Assalamualaykum Ji. Bagaimana kondisi ente? Sudah lebih baik? Mohon info. Tks”

Ayah dua anak itu menjawab singkat, “Ya Ji.”

Pada 28 September 2023 saya kontak lagi, dan ENS, begitu inisialnya, lagi-lagi menjawab singkat meskipun kali ini sudah lebih panjang: “Waalaikumsalam WW. Sudah lebih baik Ji.”

Ketika ia berulang tahun pada 26 Desember 2023 saya mengucapkan selamat, dan ia mengucapkan terima kasih. Saya mendoakan dan memberikan dia semangat agar bisa ngopi bareng lagi. “Ok, Ji,” katanya, seperti biasa, singkat saja.

Begitulah komunikasi saya dan ENS dalam setahun terakhir. Ia hanya menjawab “Aamiin, terima kasih, dan Ok Ji.”

Terakhir saya kontak dengan almarhum pada 11 Januari 2024. “Alfatiha khusus utk H. Endy Subiantoro.” Sepertinya saya sudah hafal, jawabannya pasti. “Terimakasih ji.”

Saya memaklumi ia tak banyak menulis kata-kata meskipun sebenarnya ENS sebagai penulis yang produktif.  Dalam setahun ini ia menderita autoimun. Penyakit autoimun adalah kondisi ketika sistem kekebalan tubuh seseorang menyerang tubuhnya sendiri. Ada lebih dari 80 penyakit yang digolongkan penyakit autoimun. Beberapa penyakit di antaranya memiliki gejala serupa, seperti lelah, nyeri otot, dan demam.

Normalnya, sistem kekebalan tubuh berfungsi untuk menjaga tubuh dari serangan organisme asing, seperti bakteri atau virus. Ketika terserang organisme asing, sistem kekebalan tubuh akan melepas protein yang disebut antibodi untuk melawan dan mencegah terjadinya penyakit.

Makanya ketika teman-teman Jakarta Weltevreden mengunjungi rumahnya di Jl. H. Muhirin No. 14B RT 003 RW 006 Cempaka Putih Barat, Jakarta Pusat, tak dapat menjumpainya. “Sedang istirahat di kamar,” kata istrinya, Rita Dwi Kartika Utami.

MAIN BOLA DI CIBUBUR

Saya mengenal Endy ketika ia masuk menjadi wartawan Bisnis Indonesia pada 1994 bersama teman-teman seangkatannya seperti Muhammad Sarwani, Idham Mukhlis, Supriyadi, Yus Husni Thamrin, dan Paulus Sri Fajar.

Sebagai reporter baru, Sarjana Geologi lulusan Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada, itu bukan hanya dibekali pengetahuan juralistik. Namun juga induction training untuk mengenal perusahaan lebih dekat dan bergaul sesame karyawan PT Jurnalindo Aksara Grafika (JAG),  penerbit Harian Bisnis Indonesia.

Sebagai Manajer sekaligus pelatih Bisnis Indonesia Football Club (BIFC), Endy dan kawan-kawan tentu saya undang untuk mengikuti pertandingan antarbagian. Endy masuk tim Redaksi. Pertandingan digelar di lapangan sepak bola Bumi Perkemahah Cibubur, Jakarta Timur.

Namun ia tidak tercatat sebagai starter. Tiba-tiba kawannya kelelahan sehingga perlu diganti. Sebagai pemain pengganti, tiba-tiba Endy masuk ke lapangan dan langsung mengejar lantas menendang bola. Saya terkejut, siapakah pemain baru masuk itu? Saya hampiri, tampak ia ketakutan. “Siapa nama kamu?

“Endy, Pak!” jawabnya tegas.

“Kenapa main bola pakai celana panjang?” Pertanyaan lanjutan saya lontarkan. Endy tidak menjawab, tapi ia langsung keluar lapangan. Beberapa menit kemudian ia kembali memperkuat tim redaksi dengan mengenakan celana pendek.

Bergaul dengan Endy asyik. Selain urusan redaksi, kami juga mengurusi  Koperasi Karyawan Jurnalindo Aksara Grafika (Kopkarjag). Itulah sebabnya ia menjadi  Komisaris PT JAG sebagai ex officio Ketua Kopkarjag di mana saya sebagai Ketua Dewan Pengawasnya. Karirnya sebagai wartawan cukup baik dan kerap menjadi reporter terproduktif. Meskipun berlatarbelakang Pendidikan Teknik, ia memahami liputan ekonomi makro dan mikro.

Di tengah kesibukannya, Endy masih sempat melanjutkan kuliah untuk program Magister Management di FEB Universitas Indonesia pada 2006. Endy juga menjadi dosen di UHAMKA untuk mata kuliah pemasaran.

Sebelum reformasi 98, Endy ditugaskan di Istana dan kemudian ia dipercaya teman-temannya sebagai koordinator liputan wartawan zaman Presiden Soeharto. Endy kemudian dipromosikan menjadi redaktur perbankan dan finansial.

Karirnya sebagai karyawan cukup cemerlang. Ia tak hanya ditugaskan di redaksi tetapi juga di divisi usaha  hingga menempati sebagai direktur pemasaran JAG. Berbekal jaringan yang luas ketika di redaksi dan pemahaman bisnis sebagai direktur pemasaran, pada November 2013, ia merintis bisnis sendiri bersama-sama teman-teman.

Meskipun sudah sekantor lagi, kami sering ngobrol baik untuk urusan bisnis maupun cerita tentang anaknya, Nicola Nur Sekar Ayu dan Salsa Putri Dita Karunia.

JAKARTA WELTEVREDEN

Para pendiri Jakarta Weltevreden dengan jurus Jalan Enam

Pada 22 Juni 2022, saya bersama wartawan senior yaitu Toto Irianto (Pos Kota), Marthen Slamet Susanto (Koran Jakarta), Dimas Supriyanto (Pos Kota), Firdaus Baderi (Harian Neraca), Muhammad Fauzy (Politeknik Negeri Jakarta), dan beberapa pejabat Pemda DKI Jakarta mendirikan Yayasan Jakarta Weltevreden. Endy Subiantoro saya ajak bergabung. Gayung pun bersambut. Banyak ide yang cemerlang dalam menjalan program kerja Jakwel. Hingga akhirnya tahun lalu ia jarang hadir rapat lantaran mulai sakit.

Visi Jakarta Weltevreden adalah adalah Menjadikan Kawasan Jakarta Weltevreden sebagai destinasi wisata bertaraf internasional untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Sebagai anak Betawi Kwitang jiwa Endy terpanggil untuk merawat Jakarta sebagai palang pintu Indonesia agar semakin berkembang menjadi kota berkelas dunia.

Hari ini, Rabu, 6 Maret 2024, pria berkumis itu berpulang ke rahmatullah dan dimakamkan di TPU Menteng Pulo, Jakarta Selatan. Kini almarhum Endy Subiantoro telah tenang di akhirat, namun mimpinya tentang Jakarta melalui Jakwel mendunia terus hidup.

*) Ditulis oleh Lahyanto Nadie, redaktur khusus Indowork.id

 

 

 

Berita Lainnya