Headline Humaniora

Final AFF 2020: Jangan Bully dan Patahkan Semangat Mereka!



single-image

INDOWORK.ID, JAKARTA: Para pemain muda Timnas Garuda adalah bagian masa depan yang harus dibangun dengan presisi, lengkap, dan respectful. Hormat kepada tim pelatih AFF 2020 yang sudah menemukan kelemahan dan kekurangan pengembangan suatu tim sepakbola di Indonesia. Shin Tae Yong berani secara jujur menyampaikan dan mulai memperbaiki.

Kresno Sediarsi, bankir senior yang mencermati sepak bola, mengatakan bahwa tim nasional Piala AFF 2020 sudah mengalami perubahan yang signifikan. Menurut mantan Direktur Utama Bank DKI itu, ada lima faktor yang perlu diperbaiki:

Pertama, Perbaikan gizi. Untuk membangun otot, power, dan kebugaran (kurangi gorengan, karbohidrat dan tingkatkan protein utamanya).

Kedua, perbaikan kekuatan dan kelenturan otot. Perlu latihan fisik yang sesuai dengan kebutuhan pemain sepak bola.

Ketiga, Perbaikan stamina. Para pemain perlu latihan fisik yang lebih berat sehingga bisa bermain full ditambah dengan additional time (2×45’) plus (2×15’).

Keempat, Perbaikan mental. Para pemain dilatih untuk tidak menyerah pada kondisi paling sulit dan seolah menghancurkan.

Kelima, Perbaikan strategi bermain. Sebagai tim dan individual skills sebagai penopangnya perlu ditingkatkan strateginya.

Menurut Kresno, perbaikan ini baru terjadi sejak tim pelatih baru menangani mereka. “Jangan minta instan mereka menjadi jagoan.”

Tim Indonesia sudah mulai meningkat dan masih perlu dan bisa ditingkatkan jauh lebih baik lagi, seperti kekuatan otot, kecepatan reaksi, dan kekuatan fisik. Tim ini sudah lebih baik dari yang selama ini puluhan tahun Indonesia tidak berkutik bahkan di ajang Sea Games. “Bravo Timnas Indonesia untuk AFF,” pungkasnya.

KURANGI GORENGAN

Sementara itu, Ketua Badan Supervisi Bank Indonesia (BSBI) Muhammad Edhie Purnawan  sepakat dengan semua usulan Kresna. “Yang paling menarik adalah kurangi gorengan. Tapi susah itu,” ujarnya.

Menurut Edhie, perlu ditambah juga dengan STMJ yaitu susu, telor, madu, dan jamu.

Fauzan, wartawan senior asal Semarang sepakat dengan Edhie. Ia melihat masa depan yang cerah bagi para pemain muda.

“Liat umur mereka. Nadeo 24 tahun, Asnawi 22, Rizky Ridho 20, Irianto 22, Dewangga 20, Witan 20, Egi 21, Rumakiek 19, Elkan Baggot 19,” kata Fauzan.

Mereka adalah anak-anak muda yang masih punya masa depan cerah. Menyaksikan Asnawi cs bisa tampil di babak final pun sudah menegakkan kepala masyarakat Indonesia.

“Jangan bully atau patahkan semangat mereka hanya karena dibantai 4-0 oleh Thailand yang diisi pemain yang lebih senior dan sudah berpengalaman di ajang AFF,” ujar pria asal Semarang itu.

Jangan berharap hasil instan. Kita tidak bisa berharap banyak bisa berjaya – bahkan di level Asean – jika tidak mulai dari membangun kompetisi yang bagus dan menjadikan sepakbola sebagai ajang politik, sementara kasus suap, tawuran dan sebagainya tidak pernah diatasi dengan tuntas.

Fauzan benar. Banyak warga yang mendukung penampilan anak-anak muda yang penuh semangat itu. “Ini mental baja anak muda,” kata Muhammad Idris, analis otomotif yang juga mencermati sepakbola.

Seorang guru besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Gadjah Mada justru mengolok-olok dengan mengirimkan meme gambar televisi dan palu menyongsong pertandingan final leg kedua Piala AFF 2020 Indonesia vs Thailand malam ini, Sabtu (1 Januari 2022). “Cara menyindir ahli ekonomi itu kurang elok,” kata seorang penulis buku.

SHIN TAE YONG YAKIN MENANG

Kekalahan Tim Garuda Indonesia dari Tim Gajah Perang Thailand di Leg pertama dengan skor 4-0 pada 29 Desember 2021 di Stadion Nasional Singapura bukanlah, tetap membuka peluang Indonesia juara. Pelatih Indonesia asal Korea Selatan, Shin Tae Yong (STY) yakin dapat meraih kemenangan.

“Dengan pengalaman kekalahan di leg pertama, saya berusaha membuat susasana yang baik,” kata STY, Jumat (31/12/21).

Segala sesuatu di sepak bola bisa terjadi. Kemungkinan Indonesia menang itu ada, namun STY tak memastikan berapa jumlah gol yang dapat disarangkan pemain Indonesia. Para Pemain Indonesia di dominasi para pemain muda, butuh keseragaman dalam semangat dan haus dalam meraih kemenangan. “Namun membutuhkan jam terbang dan mengatasi rasa grogi.”

 

Leave a Comment

Your email address will not be published.

Berita Lainnya