Headline INFRASTRUKTUR

Pasca AFF 2021, Infrastruktur Sepakbola Kunci Kembangkan Talenta Garuda Muda



single-image
JAKARTA INTERNATIONAL STADIUM

INDOWORK.ID, JAKARTA: “Ketersedian infrastruktur olahraga berbanding lurus dengan peningkatan prestasi olahraga,” kata Deputi Bidang Pemberdayaan Pemuda Kemenpora Faisal Abdullah.

Faisal menjelaskan pengembangan fasilitas olahraga yang terstandardisasi akan menjadi perhatian serius oleh pemerintah pusat dan daerah yang merupakan amanat UU No.3 Tahun 2005 tentang sistem Keolahragaan Nasional. Selain itu, pihaknya akan memberikan skala prioritas pada infrastruktur olahraga yang akan dibangun di pusat atau daerah-daerah.

“Dengan pembangunan, peningkatan, pengembangan dan pengelolaan infrastruktur olahraga yang baik akan menimbulkan banyak manfaat seperti prestasi, ekonomi, sumber daya, dan lainnya,” ucapnya.
mengembangkan infrastruktur olahraga yang memenuhi standar sebagai salah satu modal untuk menjadikan penggerak bagi roda perekonomian nantinya di daerah masing-masing,” paparnya.

KOLABORASI DENGAN KONI

Muhammad Hanan Rahmadi
Muhammad Hanan Rahmadi

Asisten Deputi Standardisasi dan Infrastruktur Olahraga Kemenpora Muhamad Hanan Rahmadi mengatakan salah satu kunci untuk meningkatkan prestasi olahraga adalah pemenuhan standar nasional olahraga yang diatur dalam UU No. 3 Tahun 2005 tentang Sistem Keolahragaan Nasional.

Standardisasi Keolahragaan Nasional sebetulnya sudah ada payung hukumnya di UU SKN. Tetapi masih belum diimplementasikan secara maksimal. “Kami sedang mendukung grand desain pemenuhan sistem keolahragaan yang berisikan standardisasi keolahragaan nasional tersebut, nanti kami akan berkolaborasi dengan KONI untuk menentukan standar tersebut,” ujar Hanan.

Hanan menjelaskan terdapat enam standar yang harus disusun demi meningkatkan prestasi olahraga. Pertama adalah standar kompetensi tenaga keolahragaan, isi program penataan/pelatihan tenaga keolahragaan, penyelenggaraan keolahragaan, sarana dan prasarana olahraga, pengelolaan organisasi keolahragaan, dan pelayanan minimal keolahragaan.

“Tapi, penerapan dari grand desain ini membutuhkan proses yang tidak sebentar, maksimal 5 tahun baru bisa diterapkan. Untuk menyusunnya kami harus melakukan riset, seperti desain sarana dan prasarana standarnya seperti apa itu harus disesuaikan dengan potensi atlet di tiap-tiap daerah. Itu sebabnya memakan waktu,” lanjutnya.

TERHAMBAT INFRASTRUKTUR

Pieter Huistra
Pieter Huistra

Direktur Football Development PSSI Pieter Huistra menilai pembinaan usia muda di Indonesia masih sangat bermasalah. Salah satu permasalahannya yaitu adalah terhambatnya pembangunan infrastruktur.

Dalam acara workshop dan diskusi PSSI bertemakan, ‘Sudah Kerja Apa Saja PSSI?’ yang diselenggarakan oleh PSSI Pers di Senayan, Jakarta, Senin (15/12/2014), salah satu materi yang dibahas adalah pembinaan usia muda.

Pada kesempatan tersebut Huistra memberikan beberapa hal pemaparan terkait pembinaan usia muda. Setelah tiga minggu berada di Jakarta, pria asal Belanda itu mengaku banyak menemukan masalah di sepakbola Indonesia.

“Indonesia memiliki banyak potensi untuk bisa mengembangkan sepakbolanya. Tapi kenapa prestasi timnas tidak naik? Jadi itu adalah tugas saya untuk menginvestigasi dan mencari tahu apa yang salah dengan sepakbola Indonesia,” ungkap Huistra.

Dia menilai pembinaan usia muda sangat penting dibangun untuk dapat menciptakan tim nasional yang kuat di masa depan. Akan tetapi, dia menyoroti satu hal yang menjadi penghambat yaitu masalah infrastruktur.

Pieter sudah menonton beberapa pertandingan dan mengobrol dengan banyak orang. Ia terkejut dengan fasilitas yang ada di sini. Lapangan sepakbola yang ada di sini sangat buruk. Lagi pula, lapangan yang bisa disewa dengan harga mahal. “Dua hal inilah penyebab pembinaan usia muda tidak berkembang.”

Menurut dia, yang dibutuhkan oleh sepakbola Indonesia adalah organisasi sepakbola di setiap daerah untuk membina usia muda. :Ini adalah tugas PSSI untuk menangani sepakbola Indonesia,” tuturnya.

Dia mencontohkan sepakbola muda di Uruguay yang sangat terbina dengan rapi. Setiap anak kecil berusia 6 sampai 14 tahun dapat berlatih sepakbola dengan baik karena didukung oleh lapangan yang memadai.

Oleh sebab itu, Huistra menyebut tugas utamanya adalah mendorong PSSI untuk memperbaiki infrastruktur lebih dulu.

“Sebenarnya semua masalah bisa diperbaiki. Jika PSSI dan pemerintah mau bekerja sama untuk membangun infrastruktur,” kata dia.

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published.

Berita Lainnya