Headline INFRASTRUKTUR

Kisah Waskita Beton Precast, Bertransformasi Jadi Perusahaan Terbatas



single-image
Pelabuhan Tanjung Priok Tempo Dulu

INDOWORK, JAKARTA: Perjalaan bisnis PT Waskita Beton Precast Tbk. yang berawal dari perusahaan Belanda, ternyata dimulai dari sebuah CV yang kemudian bertransformasi menjadi perusahaan terbatas yang bernama Volker Aannemings Maatschapiij (VAM) N.V.

Pada 15 Mei 1934, A.C.Volker mentransformasi perusahaan Volker menjadi perusahaan terbatas swasta. Misi utama VAM N.V. adalah melakukan pekerjaan umum. Salah satu di antaranya  yaitu melakukan pekerjaan pengerukan di Belanda dan di luar negeri, termasuk di Hindia Belanda.

PELABUHAN TANJUNG PRIOK

Di Hindia Belanda VAM N.V. diketahui ikut serta dalam proyek pembangunan tahap kedua Pelabuhan Tanjung Priok di Betawi (Jakarta, red). Sejak 1913, seperti ditulis Her Suganda dalam Wisata Parijs van Java (2011: 115), gedung milik NV Volker (VAM N.V.) sudah berdiri di Bandung, di jalan yang kini bernama Jalan Asia Afrika. Selain di Bandung, N.V. Volker punya kantor juga di kota lain. Di Palembang, NV Volker punya kantor di Jalan Bukit Kecil 37. Di kota tersebut, seperti diberitakan Bataviaasch Nieuwsblad (9/3/1938), J.S. Volker meninggal dunia pada 1938 saat berusia 62 tahun. Jabatan resmi terakhirnya adalah direktur VAM NV

Kiprah VAM NV di bumi Nusantara mulai terganggu ketika pecah Perang Dunia II (1939-1945). Waktu itu Kerajaan Belanda diduduki oleh pasukan Nazi, Jerman. Sementara itu, Hindia Belanda mengumumkan keadaan siaga menghadapi invansi Jepang. Pada Desember 1941, sebuah faksi perjuangan dari Sumatra menerima bantuan Jepang untuk mengadakan revolusi terhadap pemerintahan Hindia Belanda. Pada Maret 1942 pasukan Belanda menyerah kalah kepada pasukan Jepang.

Cerita di balik pendudukan Jepang di Indonesia sangat bervariasi, tergantung tempat seseorang tinggal dan status sosial orang tersebut. Mereka yang tinggal di daerah yang dianggap strategis bagi Jepang,  mengalami siksaan, menjadi obyek perbudakan seks, penahanan tanpa alasan, bahkan menjalani hukuman mati. Orang Belanda dan campuran Indonesia-Belanda menjadi target utama. Harta kekayaan dan asset bisnis mereka pun menjadi sasaran perampasan oleh pasukan Jepang.

Namun, selama masa pendudukan, Jepang juga membentuk badan persiapan kemerdekaan bagi Indonesia yaitu BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia) atau Dokuritsu junbi chōsa-kai dalam bahasa Jepang. Badan ini bertugas membentuk persiapan-persiapan pra-kemerdekaan dan membuat dasar negara dan digantikan oleh PPKI atau  Dokuritsu Junbi Iinkai yang bertugas menyiapkan kemerdekaan.

Pendudukan Jepang  atas wilayah Hindia  Belanda berdampak langsung atas aktivitas perusahaan-perusahaan Belanda, tak terkecuali VAM N,V. Sejumlah kegiatan konstruksi dan pertambangan yang sedang dikerjakannya, berjalan tersendat. Bahkan ada yang terpaksa berhenti total.

BELANDA PUNYA HARAPAN

Adriaan Volker
Adriaan Volker

Setelah Jepang menyerah pada 1945, perusahaan-perusahaan Belanda punya harapan hidup lagi. Banyaknya bangunan, jembatan, maupun jalan rusak akibat perang menjadi alasan bagi perusahaan-perusahaan konstruksi alias pemborong Belanda untuk eksis lagi.

Apalagi setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaanya pada 17 Agustus 1945, kondisi politik dan  keamanan Indonesia masih belum stabil. Pemerintahan Indonesia belum mengarahkan perhatiannya untuk perbaikan semua jalan, jembatan, pelabuhan, bandara, dan bangunan yang rusak akibat perang. Keadaan tersebut dimanfaatkan oleh perusahaan-perusahaan pemborongan Belanda untuk bisa aktif kembali. Mereka seolah mendapat angin segar ketika  Belanda mencoba eksis kembali di Indonesia melalui Agresi Militer I (1947) dan Agresi Militer II (1948).

Dalam situasi seperti itu, orang-orang sipil Belanda memiliki kesempatan untuk  bekerja kembali, termasuk mengelola perusahaan pemborongan seperti  VAM NV. Bahkan, perusahaan pemborongan itu masih tetap berjalan ketika Belanda sudah benar-benar cabut dari bekas negeri jajahannya. Namun, keadaan itu berubah setelah ada Dekrit 5 Juli 1959 dan Soekarno makin berkuasa, serta memberlakukan Peraturan Pemerintah No. 2 Tahun 1960 tentang penentuan pemborongan milik Belanda yang dikenakan nasionalisasi.

Sesungguhnya, keadaan sulit juga menghantui bisnis keluarga Volker di Belanda selama Perang Dunia II berkecamuk. Namun, berbeda dengan di Hindia Belanda, aktivitas bisnis Volker di negeri Belanda segera menggeliat tat kala Perang Dunia II berakhir. Terbukti, lima tahun setelah Perang Dunia II usai, manajemen bisnis Volker terlibat dalam implementasi Rencana Botlek, di mana mereka mengambil alih 128 ha tanah milik warga, kemudian menyewakannya untuk para pihak yang hendak menyimpan jarahan berupa benda-benda berharga yang ditemukan dalam proyek pengerukan.

Pada 1953, perusahaan Volker bersama dengan perusahaan Texas, berpartisipasi dalam Nederlandse Boormaatschappij, sebuah kerja sama bisnis untuk melakukan pengeboran gas, minyak bumi, garam mineral dan lain-lain. Kegiatan pengeboran dilakukan di Schoonebeek, Hoogeveen dan Rijswijk.

Pada 1954, bertepatan dengan peringatan 100 tahun, perusahaan Volker sudah melahirkan anak perusahaan kedua yaitu Bato Betonbouw di Den Haag. Melihat kemajuan tersebut, komunitas bisnis internasional memandang Volker sebagai ancaman global. Apalagi pada tahun itu pula, Koninklijke dianugerahi kepada Volker. Dengan begitu, Volker tampil sebagai perusahaan kebanggaan Sliedrecht. Sejak saat itu perusahaan Volker dikenal dengan sebutan Koninklijke Maatschappij yang bertanggung jawab melakukan pekerjaan umum sebagaimana dicita-citakan Adriaan Volker I.

Selanjutnya, Volker memperkuat armadanya dengan kapal keruk isap trailing suction. Hal itu membuat  Volker mendapat penugasan dan tanggung jawab untuk menangani banyak proyek besar seperti proyek pemeliharaan Pelabuhan Rotterdam, pembangunan Pelabuhan Perminyakan Ketiga di daerah Botlek, pembangunan Europoort (sejak 1958) dan Delta Works yang dimulai pada 1956.

Keberdaaan entitas bisnis Volker di Indonesia boleh dibilang selesai tat kala pemerintah Indonesia menasionalisasi Volker Aannemings Maatschapiij  N.V pada 1 Januari 1961. Namun, di negeri asalnya, Belanda, Volker tetap mengibarkan benderanya. Bahkan, ia semakin memantapkan kiprahnya di bidang pekerjaan umum, khususnya di bidang pengerukan.

Berita Lainnya