Headline Humaniora

Jakarta dan Betawi dalam Antologi Puisi



single-image

INDOWORK.ID, JAKARTA: Puisi adalah salah satu jenis karya sastra yang gaya bahasanya sangat ditentukan oleh irama, rima, serta penyusunan larik dan bait.

Penulisan puisi dilakukan dengan bahasa yang cermat dan pilihan kata yang tepat, sehingga meningkatkan kesadaran orang akan pengalaman dan memberikan tanggapan khusus lewat penataan bunyi, irama, dan pemaknaan khusus.

Betawi adalah penduduk inti kota Jakarta yang kini berekspansi ke wilayah Jakarta, Bogor, Tangerang, Bekasi, dan sekitarnya. Mereka adalah keturunan penduduk yang bermukim di Batavia sejak abad awal.

Meminjam istilah Gubernur DKI Jakarta Anies Rasyid Baswedan bahwa Betawi menjadi simpul Indonesia yang merekatkan semua suku, ras, etnik, dan antaragolongan hingga negeri ini terawat dengan baik.

Menurut istilah yang disuguhkan oleh budayawan Yahya Andi Saputra bahwa Betawi megapolitan kini mangemban amanah dalam merawat Jakarta dan menjadi palang pintu Indonesia. Maka, Betawi bukan sekadar hadir dan eksis, akan tetapi terus berkembang seiring dengan tuntutan zaman memberikan kontribusi terbaik bagi Negara Kesatuan Republik Indonesia.

DARI PENJURU DUNIA

Para pendiri Jakarta Weltevreden

Jakarta telah mendekati usianya yang kelima abad. Dalam perjalanan panjangnya, telah berkembang menjadi kota megapolitan, kota terbesar di belahan bumi bagian selatan. Jakarta menjadi tempat berkumpulnya manusia dari penjuru Nusantara, dan bahkan dari penjuru dunia.

Selama panjang rentang perjalanan Jakarta itu, para tokoh dan pemuka Betawi menjadi teladan bagi masyarakat dalam menjadi tuan rumah yang baik bagi mereka yang datang dan berkehidupan di ibu kota.

Kontribusi para tokoh Betawi dalam mengawal, merawat, dalam membangun kota dan memberikan kebahagiaan kepada sesama warga nyata tampak dalam perjalanan sejarah Jakarta. Sikap egaliter dan berkeadilan menjadi nilai penting yang ditunjukkan oleh masyarakat Betawi, di bawah bimbingan para tokoh masyarakatnya.

IRONI TIADA TARA

JAKARTA INTERNATIONAL STADIUM

Jakarta adalah pameran ironi tiada tara.  Terhimpit di antara pencakar langit, kita saksikan tebaran gubuk kumuh di gang becek. Bertetangga dengan kehidupan malam yang riuh dan glamor,kita temukan barisan gelandangan terkapar di emperan lembab.

Banyak cerita yang bisa direkam di sini. Mulai dari retorika penyelenggara negara, yang diburu jurnalis untuk jadi headline berita. Hingga kecelakaan lalu lintas yang dianggap sepele karena terjadi setiap hari. Dan nyawa manusia hanya berharga sesuap nasi.

Mulai dari kajian ilmiah yang diseminarkan dengan meriah. Hingga rintihan bait puisi yang mencoba berempati. Mulai dari nostalgia kota tua, hingga upaya memacu teknologi dan infrastruktur yang tertinggal jauh.

Kehidupan di bumi Betawi dengan beragam kisah dan Jakarta ibu kota Indonesia yang menjadi kebanggaan kita yang kini menjadi megapolitan dan penuh dengan keramaian, gedungnya tinggi-tinggi, mencakar langit, kotanya sangat indah, duhai selangit. Begitu kata Rhoma Irama.

BETAWI DALAM PUISI

Berkisah tentang Betawi dan Jakarta dalam puisi merupakan gagasan yang indah dan dapat dinikmati oleh siapa saja. Jika Bimbo bersyair tentang cinta dan Benyamin S. bercerita tentang kondisi kota, Antologi Puisi Penyair Nusantara: Jakarta dan Betawi ini mengawinkan keduanya.

Mengarang puisi bukanlah suatu perkara yang gampang.  Tidak semua penulis mampu mengarang puisi. Seorang sastrawan besar belum tentu dapat menulis puisi dengan baik, karena butuh kepekaan hati dalam menanggapi intuisi, kejernihan pikiran ketika menggali imaji guna merangkai kata demi kata, diksi per diksi.

Untuk menggunakan metafora yang unik, agar puisi yang lahir terasa lebih hidup, perlu proses yang panjang sehingga puisi dapat dinikmati oleh penggemarnya.

Antologi  ini membuat saya terkesima lantaran banyak mengungkap cerita mulai dari sejarah hingga kaum milenial, terbentang dari dari Lenteng Agung hingga ke Pulau Seribu. Melihat dari berbagai sudut pandang tentang Jakarta dan Betawi.

Jika saja antologi ini lebih banyak mengisi halaman demi halamannya dengan tokoh Betawi dan keteladannya tentu akan menjadi lebih berwarna. Namun saya bersyukur nilai-nilai budaya Betawi yang balance, egaliter, toleransi, akuntabilitas, waskita, dan istiqamah tercermin dalam antologi yang ditulis oleh mereka dari ragam latar belakang pendidikan.

KARYA BESAR

Hasan Zein Mahmud, ekonom dan bergelut di dunia pasar modal, sering menulis puisi. Tentang antologi ini ia berpendapat bahwa antologi raksasa yang mengumpulkan tulisan 110 penyarir, ini adalah sebuah kerja besar.

Puisi tentu berbeda dengan reportase pandangan mata. Penulis mengamati dengan lensa persepsi dan fantasi subjektif, merekam dan mengolahnya dengan perbendaharaan fantasi yang dia miliki, lalu menuangkan dengan imajinasi dan diski yang difilter dan terpilih. ” Poetry is language at its most distilled and most powerful,”  tulis Rita Dove. Dan realitas sosial adalah tambang kata paling kaya.

Karya-karya dalam antologi ini adalah penggalan  puzzle warna warni. Membaca, merenungkannya secara mendalam, berusaha memaknainya dengan persepsi dan kearifan kita sendiri-sendiri, saya yakini bukan hanya akan membawa kita lebih mengenal Betawi dan Jakarta, akan tapi lebih arif dalam mengenali diri kita sendiri.

Sembari lebih berempati dan mencintai Jakarta dengan segala kekuatan dan kelemahannya. Meminjam ungkapan Dylan Thomas: “A good poem is a contribution to reality. The world is never the same once a good poem has been added to it. A good poem helps to change the shape of the universe, helps to extend everyone’s knowledge of himself and the world around him.”

Saya menikmati puisi karya Asrizal Nur yang bertajuk DARI IBU BETAWI:

Aku menunggu ia melahirkan

anak berkepala cakrawala, berhati cahaya

bersatu menerangi rumah sendiri biasnya menyinari nusantara

Membaca karya-karya keren dalam antologi ini, tidak hanya sarat makna yang mendalam dan sangat indah, namun ada juga yang asyik dan menggelitik. Bacalah karya Atut Dwi Sartika (Adiska) yang ngebanyol tapi sarat makna.

BETAWI

“Eh Betawi makin manis aje, Gabus pucung  disambelin”

“Eh Betawi makin berjaye, Pemimpin bagus dukung jangan diantepin”

Saya makin tergelitik ketika membaca karya Samian Adib.

PALANG PINTU

Tuan sambut kami dengan sebentang pantun

Pertanda Tuan setia merawat adat berbudi santun

Ada lagi yang puisi yang bercerita mengingatkan keseharian orang Betawi dengan tutur mengena di hati karya Tuti Tarwiyah:

SENJA DI SUDUT PEKAYON JAKARTA SELATAN, SAMPING AKRI

“Yayah, Yayah

kita maen nyook”

Girang membuncah hati ini

mendengar ajakan maen teman-teman ku.

Kugendong adikku

yang baru belajar jalan.

Buru-buru kuminta izin umiku untuk momongnya.

Dengan puisi aku bernyanyi

Sampai senja umurku nanti

Dengan puisi aku bercinta

Di batas cakrawala

THE RAINY SEASON

Akhirnya, saya kutipkan ungkapan Tucker Elliot dalam bukunya The Rainy Season. Sepenggal imajinasinya tentang  Jakarta.

“The sun appeared between the twin spires of the cathedral as its light reflected off the crescent and star that rose out of the dome on top of the mosque. It was beautiful, and surreal. In one instant, the bells rang out from the cathedral and if I closed my eyes then I could easily imagine that I was back home in Europe, but in the next, the call to morning prayer sounded from the mosque, and it was a stark reminder of how far away I actually was from my true home.”

Selamat membaca, merenung, memaknai, dan melihat Jakarta dengan lensa yang baru. Lensa yang lebih kaya warna. Rasanya akan lebih sedep kalau epilog ini saya tutup dengan pantun:

Bang Samhabur Mukhtar Chaniago dan Mpok Tuti Tarwiyah Adi

Pasangan serasi menerbitkan Antologi Puisi Penyair Nusantara

Perjuangan mereka akan menjadi karya bersejarah dan abadi

Mematenkan dan mewariskan kehidupan Betawi dengan sastra

Ditulis oleh Lahyanto Nadie, Founder Jakarta Weltevreden.

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published.

Berita Lainnya