Headline Humaniora

Inilah Intisari Buku Betawi Megapolitan Karya Yahya Andi Saputra



single-image

INDOWORK.ID, JAKARTA:

Bismillah itu awal berkata

Rohman dan rohim serenta jua

Maafkan saya menyusun kata

Memohon ampun pada Yang Kuasa

 

Kadal laki buntutnya merah

Lagi lari kesangkut duri

Kenal diri faham sejarah

Agar tradisi terus lestari

 

Banyak cara dilakukan orang untuk mengetahui suatu perkara yang kemudian dari ulahnya itu bersimburanlah getaran energi positif. Energi positif itu berlajut kapada tahap cinta dan rasa memiliki. Kecamuk rasa berkecambah dan mendorong lahirnya hasrat untuk menjaga dan memelihara bahkan berupaya menelurkan produk atau generasi baru para pecinta.

CEMERLANG DAN MEREDUP

Pintu Gerbang Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan

Namun untuk mengetahui sesuatu itu, seseorang tidak serta merta memperoleh materi yang dimaksud. Materinya pun pernah cerlang-cemerlang di suatu masa. Masa demi masa datang pergi ganti berganti dan pada suatu zaman kecemerlangan itu memudar, redup, dan hilang.

Maka ketika seseorang membincang kehilangan, biasanya bermunculanlah sesal seraya menghukum diri bahwa dirinya benar-benar teledor dan tak memiliki pengharapan. Frustrasi dan pesimislah jadinya.

Tentu frustrasi dan pesimistis tak perlu berkepanjangan. Sebagaimana pantun di atas, tak mencermin kefrustasian dan kepesimisan. Pantun itu jelas menggambarkan gairah pada perkenalan pertama dan berlanjut menjadi gejolak penemuan jati diri bak baru saja meletup pencerahan serta terbentang jalan memahaminya. Ia menemukan pijakan kemana semestinya mengarahkan kiblat dan rute mana yang harus dipilih.

Buku ini merupakan salah satu upaya menyelesaikan perkara dan diharapkan dapat menimbulkan getaran energi positif. Kita menyadari bahwa kearifan lokal yang berhamburan energi positif – tak hanya berlaku di tanah Betawi, tapi relatif menyeluruh di antero tanah nusantara – telah menjadi fosil yang nyaris tak dapat diselamatkan.

TREND GLOBALISASI

Rumah Makan Betawi Setu Babakan (Dokumentasi pribadi)

Banyak orang kerap menyalahkan perkembangan jaman dan trend globalisasi yang melaju bak kilat memuncratkan gelegar dan gegar perilaku, sementara pijakan pada akar tradisi dalam hal ini kearifan lokal belum sepenuhnya dijadikan penentu arah.

Globalisasi adalah suatu keadaan, tetapi juga suatu tindakan di mana aktivitas kehidupan tidak lokal dalam suatu negara tetapi mendunia. Ia bukan gejala baru, bahkan negara-negara maju sudah menggunakan istilah globalisasi baru (new globalism).

Sementara kita masih memandang globalisasi merupakan barang atau pengalaman baru dalam gelanggang kehidupan kita. Globalisasi sebagai gejala perubahan di masyarakat yang hampir melanda seluruh bangsa sering dianggap ancaman dan tantangan terhadap integritas suatu negara (Oetama, 2000: 36).

Dampak buruk globalisasi terjadinya globalophobia (Oetama, 2000: 36), ketakutan terhadap arus globalisasi. Globalisasi tidak dapat dihindari sehingga yang terpenting adalah bagaimana menyikapi dan memanfaatkan secara baik efek global sesuai dengan harapan dan tujuan hidup kita.

Dalam hal kearifan lokal, bagaimana ia tetap dapat hidup dan berkembang tetapi tidak ketinggalan jaman. Singkat cerita, kerifan lokal menjadi penting didokumentasikan sebelum benar-benar menjadi fosil dan hilang dari memori kolektif pemiliknya.

*) Ditulis oleh Budayawan Yahya Andi Saputra

Berita Lainnya