Headline Humaniora

Cerita Tentang Putri Sambo Babak Belur hingga Dana Abu-abu Kadiv Propram



single-image
INDOWORK.ID, JAKARTA: Setelah Irjen Pol Ferdy Sambo menjadi tersangka, cerita makin liar. Di media sosial maupun bisik-bisik di warung kopi, pembicaraan polisi menembak polisi terus berlanjut.
Mengapa Bu Jenderal minta perlindungan Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK)? Karena dia digebuki hingga babak belur oleh pak jenderal. Mengapa pembunuhan kepada ajudannya begitu kejam? Karena ada pengaruh narkoba dan nuansa cinta sesama.
Ferdy Sambo dan Putri Candrawathi
Begitulah bisik-bisik tetangga yang kini beredar dan sampai juga ke telinga saya. Bahkan Menko Polkam Mahfud MDsudah memberikan kode: “motif pembunuhan itu mungkin hanya boleh didengar orang dewasa”.
Sejak meletus peristiwa pembunuhan ajudan jenderal – yang dimanipulasi sebagai tembak menembak – di kompleks pejabat tinggi polisi di Duren Tiga, Jakarta Selatan, 8 Juli 2022 lalu, menyebar informasi dari dua kubu, yaitu kubu projenderal (bad cop) dan kubu polisi baik (good cop).
Kubu projendral sibuk kampanye bahwa kejadian itu merupakan insiden tembak menembak, dan keluarga jenderal harus mendapat simpati karena kena musibah.

KE DEWAN PERS

Yadi Hendriana (foto Dewan Pers)
Mereka mengirim tim resmi dan tak resmi ke mana-mana, antara lain, ke Dewan Pers, mengimbau wartawan agar mengutip sumber resmi dan berempati pada keluarga jenderal. Memahami perasaannya, sebagai ibu tiga anak, dan mengabaikan perasaan keluarga korban yang kehilangan anak secara mengenaskan.
Sedangkan kubu polisi baik, meluruskan dan membangun opini sebaliknya.
Beberapa teman, aktivis penegakkan hukum, mendadak didatangi orang saat sedang makan makan di warung tenda, yang langsung curhat, betapa beratnya aib yang ditanggung polisi kini. Mengingat di antara mereka tidak saling kenal, kawan saya berkesimpulan, dia merupakan bagian “tim penjernih” polisi, yang sedang kampanye. Sosialisasi.
Polisi itu menyebut nama, dan ketika dicari di mesin Google memang ada di Mabes Polri.
Kubu polisi baik – saya sebut begitu – tak mau tersandera oleh ulah seorang oknum jenderal yang konyol, mempertaruhkan korps kepolisian demi pembunuhan kalap di rumahnya. Ada 434,1 ribu anggota korps kepolisian di luar sana yang harus menanggung akibat dari ulahnya.

DANA ‘ABU-ABU’

WANITA YANG MENGAKU SEBAGAI PUTRI CANDRAWATHI (KANAN)
Harus diakui jabatan Kadiv Propam Mabes Polri memang sangat strategis. Di luar jabatan resmi, yang mengadili dan menghukum polisi bandel, Kadiv Propam adalah penampung “dana abu abu” dari berbagai sumber. Konon, setoran perjudian gelap, penyelundupan, penebangan hutan, bisnis bisnis yang perlu backingan, tertampung di sana. Bahkan Kapolri mengandalkannya, karena untuk dana operasional “non bujeter” dia yang menutupnya.
Kadiv Propam adalah bendahara tak resmi bagi Polri dan Kapolri.
Tapi tekanan publik dan perintah presiden jelas. Bahkan hingga tiga kali. Juga desakan dari kubu polisi baik (good cop)sendiri di internal.
Dengan kecermatan dan penuh kehati hatian, menggunakan scientific crime investigation skandal itu akhirnya terungkap perlahan lahan.
Memang mengesalkan, tapi pilihan realistisnya, hanya itu.
Setelah gelar perkara, Timsus Polri telah memutuskan FS sebagai tersangka bersama tiga orang lainnya, yakni RE, RR dan KM.

MELANGGAR KODE ETIK

KAPOLRI JENDERAL POLISI LISTYO SIGIT PRABOWO (KANAN)
Irwasum Polri Komjen Agung Budi Maryoto mengungkapkan, sebanyak 31 polisi ditetapkan melanggar etik dalam proses penyidikan kasus pembunuhan ajudan mantan Kadiv Propam Polri tersebut – setelah pihaknya melakukan pemeriksaan terhadap 56 personel dalam proses penyidikan kasus kematian sang ajudan.
Konon ratusan miliar rupiah sudah ditebar untuk menutup kasus ini – ada konglomerat yang mengongkosi dan skenario kasus tembak menembak kini berantakan.
Informasi yang masuk dari polisi baik, pembunuhan kalap itu, patut diduga, terdorong oleh narkoba dan hubungan cinta sesama jenis. Pelaku sedang “make” dan mendapati kesayangan sedang bergumul.
Saya terkejut mendengar itu. Tapi baru tersadar. Sudah menjadi rahasia umum, kekejian yang tak terbayangkan hanya dilakukan oleh mereka yang memiliki kelainan seks, khususnya pecinta sesama jenis dan dorongan narkoba.
“Lha, saya dapat informasi yang sama. Jadi jelas ya, sekarang, eksekusinya sekejam itu?” kata tokoh seniman yang sengaja menelpon untuk mengkonfirmasi berita yang belakangan ini menyebar itu.
Maksudnya, memang ada gerakan polisi baik untuk meluruskan berita yang dikuasai pro jenderal.

HANYA UNTUK DEWASA

Informasi dari polisi baik itu tak jauh dari kode yang disampaikan oleh Menko Polhukam Mahfud MD menyinggung soal motif eks Kadiv Propam Polri di balik penembakan Brigadir J. Menurut Mahfud motif tersebut akan dikonstruksi oleh Polri.
“Soal motif biar nanti dikonstruksi hukumnya karena itu sensitif. Mungkin hanya boleh didengar oleh orang-orang dewasa. Biar nanti dikonstruksi oleh polisi apa sih motifnya kan sudah banyak di tengah masyarakat,” kata Mahfud MD saat konferensi pers di kantornya, Jakarta, Selasa (9 Agustus 2022).
“Hanya boleh didengar orang orang dewasa.” Apa maksudnya?
Perkembangan menyedihkan adalah ada wartawan yang terlibat dalam kasus rekayasa berita kematian ajudan, yakni ikut membuat siaran pers dan merancang cerita di luar kejadiannya.
Di Senayan, di tempat nongkrong para jurnalis, saya mendapat info, press release itu itu bukan kerjaan wartawan yang ngepos di Mabes Polri, orang dekat Kapolri. Kemungkinannya jurnalis yang ngepos di Jaksel, yang nempel Kapolres.
Tadi pagi saya dapat info nama yang bersangkutan dan gengnya. Saya tak kenal karena bidangnya bisnis dan marketing. Pensiunan media cetak kondang.
Tapi menilik nama rekan rekannya nampaknya dia bergabung dengan jurnalis pembuat hoax.
Ditulis oleh Dimas Supriyanto,  Fouder Jakarta Weltevreden.

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published.

Berita Lainnya