Figur Headline Humaniora

Muhammad Sarmili, Anak Betawi di Lapangan Bolavoli Internasional



single-image

INDOWORK.ID, JAKARTA: Namanya Muhammad Samili bin Haji Abdul Karim bin Napih.  Profesinya sebagai guru olah raga Sekolah Dasar. Ayahnya juragan terkenal di kawasan Srengseng Sawah, Jagakarsa, Jakarta Selatan. “Dasar luh anak tukang buah,” kata Gubernur DKI Jakarta (2007-2012) Fauzi Bowo ketika bercanda dengan Sarmili yang dikenal dengan panggilan babeh.

Fauzi memang akrab dengan Babeh. Kedua anak Betawi itu akrab lantaran perannya masing-masing. Fauzi sebagai gubernur, sedangkan Sarmili sebagai pelatih tim bolavoli DKI Jakarta. Mereka sering berinteraksi baik dalam keseharian maupun Pekan Olahraga Nasional (PON) saat keduanya membawa nama baik Provinsi DKI Jakarta.

Sarmili lahir di Pondok Cina Kukusan, Beji, Depok, 15 Agustus 1946. Saat masih berusia 8 bulan kecil dibawa oleh orang tuanya ‘merantau’ ke Jakarta. Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Begitulah nasib bayi Sarmili. Sami, ibunda tercinta, berpulang ke rahmatullah.

Mengapa saya sebut ‘merantau’? Ya, karena sudah beda provinsi antara Jawa Barat dan DKI Jakarta, walaupun Pondok Cina Kukusan dan Kampung Sawah, bertetangga.

ANAK JURAGAN

Meskipun masa kecilnya penuh dengan penderitaan, namun Sarmili bersyukur bahwa perjuangan ayahnya menjadi saudagar sukses membuahkan hasil. Saat ia mulai remaja, ayahnya yang awalnya hanya sebagai pekerja penarik gerobak di toko bangunan, mulai beralih menjadi petani sekaligus pedagang.

Pilihan Abdul Karim, sang ayah, adalah menjadi petani buah-buahan sekaligus menjadi pedagangnya. Hasil bumi yang ditanamnya dijual ke pasar baik itu ke Lenteng Agung maupun Pasar Minggu, Jakarta Selatan.

Pada 1967, Abdul Karim dapat order besar menjadi pemasok buah dan sayuran di Hotel Indonesia, hotel terbesar di Jakarta–sekaligus Indonesia–ketika itu.

Hotel Indonesia merupakan hotel bintang lima pertama yang dibangun di Jakarta, Indonesia. Hotel ini diresmikan pada  5 Agustus 1962 oleh Presiden RI  Soekarno untuk menyambut Asian Games IV tahun 1962. Bangunan Hotel Indonesia dirancang oleh arsitek Abel Sorensen dan istrinya, Wendy, asal Amerika Serikat.

Sebagai pemasok, order yang diterima oleh Abdul Karim semakin hari kian besar sehingga omsetnya meningkat. Juragan Betawi itu sangat bersyukur menjadi pemasok di HI dan akrab dengan manajernya yang bernama Imam Mursidi.

“Ketika anak dari kakak saya lahir pada 1967, Bapak memberikan nama Imam Mursidi,” Sarmili mengenang peristiwa lebih dari setengah abad itu.

Sang cucu Imam Mursidi yang dimaksud adalah anak dari kakaknya yaitu Mursanih yang diperunting oleh Namin Kaman. Pasangan itu kemudian dikarunia tiga putra lagi yaitu Imam Syafie, Indra Gunawan, dan Hasan Basri.

GURU OLAHRAGA

Sarmili remaja, pada 1967 barulah lulus Sekolah Guru Olah Raga (SGO). Kemudian ia mengabdi sebagai guru. Memang Sarmili hanyalah sebagia guru SD, mengajar mata pelajaran olah raga. Ia mengabdi di SD Srengseng Sawah III Petang di Kecamatan Jagakarsa, Jakarta Selatan. Namun pada 1975, gedung SD tempatnya mengajar tergusur oleh pembangunan kampus Universitas Indonesia.

MENIKAH DENGAN ARTIS

Setelah memiliki pekerjaan, bujangan yang suka menyanyi itu pun jatuh cinta kepada seorang biduan Orkes Melayu Permata pimpinan Tarmuzi Sibi, yang tak lain adalah pamannya sendiri.

Menikah pada 1972 dengan Jubaedah dan dititipi 4 orang adik ipar. Buah cinta Sarmili dan Juabedah adalah Yuli Suliyanti, Fitri Damaiyanti, Elli Triyanti, Wiwin Widiyanti, dan Ahmad Surya Maolana.

Perjalanan cinta kedua anak Betawi itu penuh onak dan duri. Pada awal berumah tangga Sarmili harus banting tulang lantaran Jubaedah yang anak yatim, memiliki empat adik yang harus hidup bersama keluarga baru itu. Adik-adik ipar tersebut adalah Diding, Dudi Junaedi,  Juriah, dan si bontot.

HOBI BOLA VOLI

Olah raga pilihannya bola voli. Di kampungnya, ia menjadi pemain andalan klub M3VC (Maju, Main, Menang, Voliball Club) yang didirikan oleh paman dan teman-temannya. Mereka adalah Muchamad Sibi, Musmad Sibi, Budiman H. Kari, Nisan H. Kari, dan beberapa lainnya.

JADI PELATIH

Ketika menjadi pemain voli dan tetap sebagai guru olah raga, ia mulai menjadi pelatih. Mulai dari sekolah hingga pemerintahan daerah, kantor militer dan kepolisian.

 

GO INTERNASIONAL

Dari melatih bola voli itulah, Sarmili keliling dunia. “Gue tiga bulan di China untuk training center dalam rangkaian Sea Geames,” kenangnya.

 

 

Berita Lainnya