Figur Headline

Cerita Rusdi Saleh, Jagoan Betawi di TVRI



single-image

INDOWORK.ID, JAKARTA: Saya lupa entah siapa dan kapan tahunnya – yang memberi tahu bahwa Rusdi Saleh ternyata orang Betawi asli. Sebab, sepanjang yang saya tahu dan saya ingat, sebagai penyiar pembaca berita Bang Rusdi tak ada “bau bau Betawinya”. Tone suara baritonnya saat membaca berita datar, resmi, sebagaimana orang Indonesia lain – sebagaimana pembaca berita TVRI umumnya.

Semua pembaca berita gaya TVRI di era 1970-1990, memang begitu. Lempeng, tak ada aksen daerah tertentu. Yang saya ingat dari Bang Rusdi saat membacakan Berita Nusantara  pukul 19.00 atau Dunia Dalam Berita pada 21.00 sore. Berita resmi, berita pembangunan, bernuansa kepemerintahan.

“Di TVRI masa itu, yang berasa ada bau kedaerahan cuman Bung Sambas. Kalau lagi siaran, Bang Sambas berasa aksen Sundanya, “ kata Bang Lahyanto Nadie, jurnalis senior, saat menghadiahkan buku Rusdi Saleh Nasionalisme Sang Penyiar di Pos Bloc – Pasar Baru, siang kemarin, dalam rangkaian diskusi Jakarta Weltevreden.

Produktif menulis, Bang Lahyanto yang pensiunan redaktur pelaksana dan direktur Bisnis Indonesia ini banyak menerbitkan buku. Saya sering kebagian. Ikut menyaksikan kemarin, Bang Toto Irianto alias To’ir (pensiunan Direktur Utama PosKota), Bang Endy Subiantoro (Bisnis Indonesia) dan Bang Firdaus Baderi (Pemred Harian Ekonomi Neraca).

Tak membuang waktu saya baca buku biografi Bang Rusdi Saleh, asli Betawi Tanah Abang (bapak) – Palmerah (ibu), setebal 386 halaman itu.

BANYAK KEJUTAN

Berhubung yang menyusun jurnalis, pembacaan buku lancar jaya. Asyik. Dan begitu banyak kejutan. Sebagiannya bikin saya terlongo-longo.

Selama 20 tahun berkarir di TVRI, sosok Bang Rusdi Saleh, sebagaimana saat membaca berita daerah dan nasional di layar kaca, dengan gaya yang lempeng, membangun citra di luar sebagai sosok yang kaku dan resmi. Padahal, sebagaimana Betawi yang lain, dia nyantai dan banyak humor – kata Bang Lahyanto.

Bang Rusdi anak tentara, ternyata. Ayahnya, H. Mohammad Saleh pejuang kemerdekaan yang dimakamkan secara militer. Ibunya Hj. Salmah Binti Mujimi. Pada masa kecilnya, di awal kemerdekaan, pernah mengungsi ke Solo dan Jogya, masa perpindahan ibukota ke Jogya.

Lahiran 7 Juli 1942, Bang Rusdi Saleh yang genap 80 tahun minggu lalu, juga ternyata masih berkerabat dengan H. Mahbub Djunaidi, kolumnis, jurnalis kondang, Ketua PWI dan politisi dari PPP.

Bukan cuma bersaudara, Mahbub Djunaidi bahkan pernah menyelamatkan nyawanya saat hanyut di kali Code di Jogyakarta. Zaman masih bocah dan sama-sama ngungsi di Jogya.

TERJUN KE POLITIK

Rusdi Saleh kini berusia 80 tahun

Lalu mengikuti jejak kerabatnya itu, selain menjadi jurnalis di TVRI, Rusdi Saleh pun terjun ke politik, dan menjadi Anggota DPRD hingga terpilih dua periode (1987-1992 dan 1992 – 1997). Duduk di Komisi C.

Menurut sesepuh warga Betawi, Babe Eddie Marzuki Nalapraya, sebagai vote getter Golkar Rusdi Saleh ikut mengerek suara Beringin ke 50% di DKI, setelah dibikin sempoyongan oleh PPP di angka 35% pemilih. Di Jakarta Golkar sempat kalah pamor bersaing dengan partai Kabah itu. Ada Oma Irama yang jadi jurkamnya.

Dan tak kurang mengejutkan, ternyata Bang Rusdi Saleh, aktifis mahasiswa di UI (1966-1969) yang seangkatan dengan Goenawan Mohamad, Ismi Hadad, Bur Rusuanto, Fikri Juffry, Willy Karamoy dan Anwar Nono Makariem. Yang terakhir ini ayah dari Nadiem Makariem, Menteri Dikbud dan pencetus transportasi Go-Jek.

KALEM dan ganteng, Rusdi Saleh muda giat berorganisasi, antara lain, di IPMI (Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Indonesia), KAMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa, 1966), Iwarda (Ikatan Warga Djakarta). Lalu dia juga ikut mendirikan LKB (Lembaga Kebudayaan Betawi, sejak 1976) dan merumuskan pendirian Bamus Betawi (1982), sebagaimana kesaksian Mayjen H. Eddie Nalapraya, tokoh Betawi Kondang Presiden IPSI.

Dengan pengalaman sebagai penyiar di RRI, dan tampil rapi sejak bocah, Rusdi Saleh melamar ke TVRI di tahun 1969 dan diterima. Dia seangkatan dengan Sri Maryati, Kosim K dan Azwar Hamid.

Secara tak resmi, seketika itu, ditasbihkan di sana, Rusdi Saleh menjadi “orang Betawi pertama yang menjadi penyiar di TVRI Pusat”.

Tak cuma itu, Rusdi Saleh juga penyiar dan wartawan TV pertama di Indonesia wawancara antarbenua, saat peluncuran satelit Palapa dari Florida, AS. Tak tanggung tanggung, yang diwawancarai Presiden Soeharto.

Masa itu, cuma tiga negara yang punya satelit, Amerika Serikat, Rusia, dan Indonesia.

Menurut kesaksian Ishadi SK, mantan Direktur TVRI, di antara penyiar TVRI angkatannya: Sazli Rais, Sambas dan Hasan Azhari Oramahi, Rusdi Saleh penyiar paling keren, paling ganteng. The Best Figure, dah!

Masa kecilnya banyak drama. SD di Kampung Bali, SMP di Pegangsaan, SMA di Gambir, Ayahnya pengagum Bung Karno. Waktu bocah sempat mengungsi ke Solo dan Jogya, 1947-1949.

Lahir dan besar di kawasan Kebon Kacang, Tanah Abang, Rusdi kecil sering diajak nonton Bung Karno pidato di Lapangan Ikada (Monas). Gaya pidato yang memukau menggedor Pak Mohammad Saleh yang tentara, dan Rusdi anaknya. Membangun jiwa nasionalismenya.

Bahkan Rusdi ikut dalam jemaah shalat Idul Adha, 14 Mei 1962, ketika terjadi peristiwa pembunuhan kepada Bung Karno. Dia di baris belakang Bung Karno. Tembakan dari pelaku H. Moh Bachrun anggota DI/TII meleset mengenai Ketua DPR Kiai Zainul Arifin yang menjadi imam. Rusdi juga ada di sekitar Perguruan Cikini saat terjadi percobaan pembunuhan 30 November 1957.

Lahyanto Nadie
Lahyanto Nadie

Dalam buku ini diungkapkan percobaan pembunuhan terhadap Bung Karno, terjadi berkali kali. Bukan saja saat shalat Idul Adha, dan di Perguruan Cikini saja. Dan Rusdi Saleh mencatatnya dengan rapi.

GAET MISS ASIA PACIFIC

RUSDI SALEH tergolong telat nikah. Baru merasai duduk di depan penghulu di usia 34 pada tahun 1976. Tapi kesabarannya untuk “belah duren” tak percuma. Dia sukses menggaet Miss Asia Pasific 1973 , Lely Herawati Soendoro. Sebelumnya Lely yang mahasiswi Fak. Psikologi UI, mengantongi gelar Ratu Jakarta, Ratu Favorite dan Ratu Personality. Top markotop.

Perhelatannya digelar di Flores Room – Hotel Borobudur. Penyiar TVRI kondang Anita Rachman, Drs. Idrus, dan Telly Amiadi, jadi MC-nya. Grup Pretty Sister jadi penghiburnya. Para pesohor papan atas di tahun itu. Pejabat pusat dan daerah hadir. Juga saudara dan kerabat.

Ada dicatat di buku ini, celetukan anggota DPRD yang jadi tamu, “Tumbenan juga ada orang Betawi menggelar resepsi di hotel berbintang”.

Ditulis oleh Dimas Supriyanto, Founder Jakarta Weltevreden

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published.

Berita Lainnya