Bisnis Headline

Tak Logis, Korbankan Pertumbuhan Ekonomi Demi Turunkan Inflasi



single-image

INDOWORK.ID, JAKARTA: Bagi saya, agak nggak logis mengorbankan pertumbuhan ekonomi demi menurunkan angka inflasi.

Bagi Jay Powell dan poro konco di FOMC The Fed tentu logis logis aja. Saya mencoba memahami logika otoritas moneter Amerika itu.

Jerome Hayden “Jay” Powell adalah Ketua Federal Reserve ke-16 yang mulai menjabat pada Februari 2018. Ia dicalonkan oleh Presiden Donald Trump dan disetujui oleh Senat Amerika Serikat.
Jerome Hayden “Jay” Powell

Pertama, pertumbuhan ekonomi memang bukan tugas mereka. Tugas mereka hanya kesempatan kerja.

Kedua, kalau pun pertumbuhan ekonomi dan kesempatan kerja bergerak paralel, pertumbuhan ekonomi AS 3Q22 sebesar 2,6%, untuk ukuran AS adalah pertumbuhan yang tinggi. Kesempatan kerja pun masih tumbuh positif. Kesempatan emas untuk mengeksekusi kewenangan.

Kenaikan Federal Fund Rate 75 basis point empat kali berturut-turut, belum pernah saya baca dalam sejarah moneter Amerika Serikat. Lebih dari itu, kalimat Jay Powell yang menyatakan “the risk of doing too little outweighed the risk of doing too much” menunjukkan sikap hawkish yang berkobar.

Dalam bahasa telanjang, Powell mengatakan bahwa risiko tidak berhasil menurunkan inflasi lebih besar daripada risiko terjadinya resesi ekonomi. Demi menurunkan inflasi, pertumbuhan ekonomi sah dikorbankan. Nah!

MENGGUNTING PASAR MODAL

Kebijakan demikian akan menggunting pasar modal (saya hanya ingin bicara saham dalam celoteh ini) dari dua ujung.

Mari kita sederhanakan formula akademis. Harga wajar saham adalah: ekspekstasi arus kas di masa datang dibagi dengan faktor diskon. Kebijakan The Fed sungguh berita amat buruk bagi harga saham.

Tingkat bunga yang tinggi – dan resesi ekonomi – akan menurunkan perkiraan laba perusahaan, dus menurunkan ekspekstasi arus kas. Pada saat bersamaan, menaikkan faktor diskon. Biaya modal naik bersamaan dengan country risk. Ketika pembilang turun bersamaan dengan naiknya penyebut, bisa dibayangkan hasil pembagian.

Indonesia tersudut pada posisi serba susah. Inflasi, boleh jadi, masih bisa dikendalikan melalui beberapa kebijakan seperti menjaga pasok dan rantai pasok, kelancaran distribusi, intervensi harga dan pemakaian produk dalam negeri.

Tapi tanpa ikut menaikkan tingkat bunga, (7DRR), maka nilai rupiah akan sangat sulit dipegang. Dan arus modal keluar, terutama dari SBN, akan makin deras.

Berbeda dengan negeri Paman Sam, di sini pemerintah dan bank sentral sangat kompak. Kita saksikan jurus jurus lihai yang akan mereka tunjukkan.

*) Ditulis oleh Hasan Zein Mahmud, Redaktur Khusus Indowork.id

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published.

Berita Lainnya