Bisnis Headline

Meskipun The Fed Naikkan Rate, Inflasi Global Bakal Turun



single-image

INDOWORK.ID, JAKARTA: Meskipun The Fed menaikkan sukubunga, saya memperkirakan bahwa inflasi global akan mengalami penurunan 1 hingga 2 bulan ke depan. Bukan karena pengetatan moneter yang diambil, praktis oleh sebagian besar otoritas moneter negara maju.

Memang kebijakan itu anomali. The Fed kembali menaikkan Federal Fund Rate, 75 bp. Dan tiba tiba, bursa saham melonjak. Tiga indeks utama saham Amerika Serikat naik rata rata di atas 2%.

NASDAQ bahkan menutup perdagangan hari Rabu (27/07), kemarin, dengan kenaikan 4,06%. Selain indeks harga saham, tak kalah mengejutkan, ternyata yield trasury juga mengalami penurunan. Imbal hasil 10 year US treasury kemarin ditutup lebih rendah pada 2,759%

Boleh jadi kenaikan 75 bp telah sepenuhnya diantisipasi pasar. Bahkan sebelumnya berkembang prediksi bahwa FFR akan naik 100 bp. Boleh jadi karena pernyataan Chairman Powell tentang kemungkinan The Fed melambatkan rencana kenaikan tingkat bunga berikutnya, untuk meneliti lebih cermat hasil pengetatan moneter terhadap penurunan inflasi.

Saya termasuk di barisan yang skeptis terhadap efektifitas kebijakan kontraksi moneter untuk mengendalikan cost push inflation. Terutama karena akar inflasi yang tinggi – disrupsi rantai pasok akibat perang – praktis tidak tersentuh oleh US tight money policy.

INFLASI GLOBAL TURUN

Hasan Zein Mahmud

Walaupun demikian, saya memperkirakan bahwa inflasi global akan mengalami penurunan satu – dua bulan ke depan. Bukan karena pengetatan moneter yang diambil, praktis oleh sebagian besar otoritas moneter negara maju. Tapi karena bekerjanya “tangan gaib” Adam Smith

Minyak dan gas bumi Rusia yang diembargo oleh AS dan poro konco, dengan mudah banting stir ke India dan China. Boleh jadi juga Indonesia. Harga minyak yang menari-nari di seputar US 100 per barrel, akan mendorong Iran, Venezuela – boleh jadi juga Indonesia – dan produsen lain, untuk memacu produksi dan eksplorasi. Pasokan migas global pelan akan naik.

Krisis pangan global, dalam jangka pendek akan mendorong peningkatan program bantuan pangan darurat. Dalam jangka lebih panjang akan terjadi diversifikasi pangan dan upaya upaya lain.

Bagi investor saham, yang perlu diantisipasi adalah dampak inflasi tinggi yang akan bertahan lebih lama dari periode inflasi itu sendiri. Terutama sektor sektor yang secara langsung terdampak oleh naiknya harga faktor input. Sembari berharap, hantu resesi tak jadi berkunjung.

MARJIN LABA TURUN

Perusahaan perusahaan yang pasca pendemi sudah memacu peningkatan produksi hingga full capacity – tidak ada slack tersisa – akan lebih sensitif terhadap tingginya inflasi dan melambannya pertumbuhan ekonomi.

Kenaikan biaya produksi – pada beberapa sektor – tidak sepenuhnya bisa dibebankan kepada pelanggan/konsumen. Akibatnya marjin laba akan mengalami penurunan.

Ditulis oleh Hasan Zein Mahmud, Redaktur Khusus Infrastruktur.co.id

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published.

Berita Lainnya