Bisnis

Kenaikan FFR “Memaksa” Emerging Markets Naikkan Bunga



single-image

INDOWORK.ID, JAKARTA: Memang tak mudah mengemban dua misi, yang sering tampil sebagai dua hal yang saling asing. Saling meniadakan. Setidaknya sering kontradiktif

Dua target The Fed, Bank Sentral Amerika itu: inflasi 2% dan kesempatan kerja yang tinggi. Tapi ketika kesempatan kerja menunjukkan perbaikan dan pengangguran rendah, terjadi pada saat inflasi tinggi, ia akan menjadi pendorong sikap hawkish. Dorongan untuk menaikkan tingkat bunga lebih tinggi.

Pertama, kesempatan kerja yang meningkat, dan upah buruh yang naik, merupakan faktor pemicu inflasi.

Kedua, dalam keadaan ekonomi masih berpeluang bertumbuh positif, – yang ditunjukkan oleh meningkatnya kesempatan kerja – kenaikan tingkat bunga, boleh jadi, tak begitu menyakitkan

Dalam sidang FOMC, November 2022, peluang FFR naik lagi 75 basis point – untuk keempat kali – makin besar. Berita buruk lagi bagi pasar saham. Imbal hasil treasury akan naik lagi. Dolar akan menguat lebih lanjut. Berita buruk bagi stabilitas rupiah dan pull out dana asing dari pasar SBN dan saham.

Runyamnya, kebijakan moneter dunia tak bisa berdiri sendiri sendiri. Kenaikan FFR praktis “memaksa” negara negara lain – terutama emerging markets yang banyak utang dan cadangan devisa cekak – untuk ikut menaikkan tingkat bunga.

Boleh jadi hanya China yang mampu dan berani melawan arus. Turki yang coba coba bertahan tidak menaikkan tingkat bunga, kini tenggelam dalam gelombang inflasi tak terkendali. Di Argentina, inflasi dan tingkat bunga berpacu paralel.

Kembali ke tempat duduk. Kencangkan sabuk pengaman!

*) Ditulis oleh Hasan Zein Mahmud, Redaktur Khusus Indowork.id

Berita Lainnya