Bisnis Figur Headline

JGC Rawamangun, Jadi Rumah Kedua Bagi Nurhayadi



single-image
Chospiadi, Defrizal, Nurhayadi, Agung

INDOWORK.ID, JAKARTA: Jakarta Golf Club (JGC) Rawamangun, Jakarta Timur, telah menjadi rumah kedua bagi Nurhayadi, pengusaha alumni PT Telkom Tbk. Ia rutin bermain golf di lapangan tersebut setiap pekan plus hari libur nasional sejak menjadi anggota pada 2017.

“Sejak 2017 saya menjadi anggota JGC. Namun rutin main di sini sejak pensiun pada 2020. Ini rumah kedua saya,” kata anak Betawi kelahiran 4 Januari 1964 tersebut.

Kamis, 9 Mei 2024 yang merupakan hari libur dalam peringatan Kenaikan Isa Almasih ia bermain bersama dua orang dokter yaitu Defrizal dan Chospiadi. Pemain lainnya adalah Agung DMS, pengusaha dengan bendera bisnis Iridium Satellite US yang bejuga aktif bermain di JGC.

MERAIH BEST NET 1

Lahyanto Nadie, Nurhayadi, Chosfiadi, , Agung DMS, dan Defrizal

Permainan kali ini merupakan keberuntungan bagi Nurhayadi. Ayah empat anak itu bermain baik dengan suasana hati yang riang.¬†“Alhamdulillah dapat skor 94 dan meraih 5 par serta menjadi Best Net 1 Fligt C,” katanya girang.

Gross atau net merupakan istilah dalam golf di mana akumulasi dari jumlah pukulan yang telah dilakukan pemain pada sebuah lubang atau hole setelah sebelumnya dikurangi nilai dari handicap. Jadi nilai ini bisa diartikan adalah nilai atau jumlah akhir dari semua pukulan yang masuk ke dalam hole atau lubang bola

Menurut Nuryahadi, manfaat olahraga adalah menyambung tali silaturahmi dan meraih meraih prestasi sehingga hidup makin berwarna.

Mengapa JGC menjadi rumah kedua? Setelah pensiun dari PT Telkom memang Nurhayadi tetap banyak kesibukan. Mulai dari jualan sepatu dan pakaian olahraga, menjadi koki kepala ikan kakap, hingga berjualan sembako. Namun ia tetap sibuk berolah raga mulai dari bermain catur, mengangkat raket bulutangkis hingga mengayunkan stik golf.

Nurhayadi meraih prestasi di ajang kompetisi golf

Meskipun ia menjadi anggota JGC sejak 2017 namun ketika menjadi karyawan PT Telkom hingga meraih posisi puncak sebagai direktut PT Telkom Landmark Tower (TLT), ahli administrasi keuangan lulusan STT Telkom dan Universitas Padjadjaran (Unpad) Bandung itu lebih sering berkeliling dari satu lapangan golf ke lapangan golf lainnya.

Selama 4 tahun terakhir, ia selau menyempatkan diri menyambangi rumah keduanya dengan beragam mitra bermain.

JGC MANIA

Agung DMS

Bagi Agung, yang menjadi anggota JGC sejak 2018, pria kelahiran 1 Januari 1965 tersebut rutin bermain di lapangan yang penuh sejarah itu.

Ia tergabung dalam klub JGC Mania (JGCM) yang diketuai oleh pengacara terkenal Hamdan Zoelva dan Dyanto Kurniadi (Dyo) sebagai ketua hariannya.

Ia terkesan dalam pertandingan yang digelar dalam rangkaian peringatan kemerdekaan ke-78 RI di JGC. Seusai pertandingan, pria energetik berusia 59 tahun tersebut lalu mencium sang Merah Putih.

JGC merayakan ulang tahunnya yang ke-152 tahun ini. Ini luar biasa, lebih dahulu dari Indonesia merdeka. Jadi, sebelum merdeka Indonesia sudah punya lapangan golf. Pemerintah menjadikan  JGC sebagai warisan bangsa dan sekaligus untuk sarana wisata olahraga. JGC juga merupakan salah satu lapangan yang memiliki program pembinaan golf junior terbaik di Indonesia.

JGC tidak terpisahkan dari perkembangan golf di Indonesia. JGC yang terlahir pada September 1872 merupakan lapangan tertua di Asia Tenggara, termasuk salah satu club golf tertua di dunia. JGC pada awalnya bernama Batavia Golf Club yang berlokasi di kawasan Gambir, Jakarta Pusat.

DIRELOKASI KE RAWAMANGUN

JGC yang rimbun

Setelah 1934 JGC direlokasi ke Rawamangun, Jakarta Timur. Lapangan ini tetap menjadi favorit para pegolf. Walaupun dianggap sebagai hutan kota dengan luas hanya 36 hektare, lapangan ini memiliki tantangan yang membuat pegolf profesional mancanegara bertekuk lutut. Hal ini dibuktikan ketika satu-satunya pegolf Indonesia, Kasiadi, pada 1989 menyabet gelar juara dalam Kejuaraan Indonesia Open.

Saya terkenang ketika menjadi wartawan Bisnis Indonesia, yang memuat berita tersebut pada halaman pertama. Tak lama kemudian saya pun meliput pertandingan golf di JGC yang ketika itu dipimpin oleh Pangkopkamtib Laksamana Soedomo.

Meliput kegiatan olahraga di JGC pada masa Orde Baru memiliki kesan tersendiri. Maklum Soeharto, presiden yang berkuasa ketika itu merupakan sosok yang berwibawa dan ditakuti sehingga wartawan pun hati-hati ketika meliput di JGC.

SERASA DI LUAR KOTA

Menurut Nurhayadi, bermain golf di JCG seolah berada di luar kota. “Jadi nggak terasa bahwa kita. bermain di kota Jakarta.”

Sejauh ini rata-rata putaran per bulan di JGC hampir 4.000 putaran per bulan. Manajemennya  berkomitmen untuk merawat, memelihara, dan memperbaiki masalah lapangan JGC. Semakin baik manajemen menjaga lapangan tetap bagus, tentunya makin banyak pegolf yang berminat untuk main di JGC.

Lapangan JGC terkenal sulit dengan banyak pohon di kiri kanan fairway dan tidak menyediakan golf cart. Meski demikian, kalau dari segmen pasarnya masih banyak pegolf yang tertarik bermain tanpa golf cart. JGC masih mempertahankan kekhasan dengan tidak menyediakan golf cart.

“Alhamdulillah, saya tetap menyukai bermain di JGC dengan berjalan kaki,” kata Nurhayadi.

Di JGC masih banyak orang yang berusia 70-an tahun mau bermain golf dengan berjalan kaki. JGC menawarkan beberapa golf cart yang tersedia kepada para pegolf senior, tapi mereka tetap memilih berjalan kaki. Ini bagus juga bagi anak-anak muda untuk mencoba bermain golf dengan berjalan kaki.

*) Ditulis oleh Lahyanto Nadie, Redaktur Khusus Indowork.id

Berita Lainnya