Bisnis Headline

AS Sulit Kendalikan Inflasi. Bagaimana Sikap Indonesia?



single-image

JAKARTA: Inflasi AS Mei 8,6%. Lebih tinggi dari April. Lebih tinggi dari prediksi. Rekor 40 tahun lebih. Energi, pangan dan tempat tinggal (shelter) masih menjadi kontributor terbesar rekor inflasi tersebut.

Ekonom Hasan Zein Mahmud menjelaskan bahwa upaya pengendalian inflasi ke depan, akan tetap sulit. Boleh jadi makin sulit. Fasilitas LNG Freeport, di Texas, pridusen gas alam terbesar dunia, meledak. Eropa yg mengalami kelangkaan gas sejak perang Rusia, kini akan makin gelap. Ditambah sikap makin protektif pada banyak negara terhadap persediaan pangan, inflasi makin sulit dijinakkan.

Nampaknya Investor saham, harus mengencangkan ikat pinggang!

Saya berpikir, saham saham sektor energi – baik fosil maupun energi baru terbarukan (EBT) – dan konsumsi non siklikal, punya peluang untuk mrningkatkan kinerja.

KESEMPATAN EMAS

Hasan Zein Mahmud

Sikap protektif berbagai negara dengan melarang ekspor bahan pangan, sejatinya kesempatan emas bagi Indonesia, untuk memacu produksi dan ekpor pangan. Sekedar contoh, Indonesia kelebihan ayam, Malaysia kekurangan ayam dan menyetop ekspor ayamnya ke Singapura. Semoga kita cukup sigap menangkap peluang peluang itu

Kita sangat beruntung dikaruniai SDA yang kaya. Kenaikan harga komoditas meringaknkan ekonomi Indonesia, di tengah gejolak ekonomi – dan kemungkinan stagflasi.

Sementara itu, AS dan China, dua konsumen minyak bumi terbesar dunia, diperkirakan akan mengalami lonjakan permintaan mulai Q3. Sementara produksi mulai menyentuh full capacity, di OPEC ++ dan AS. Harga minyak bumi yang akan bertahan tinggi dalam waktu lama, beban luar biasa berat APBN. Demi menjaga daya beli dan inflasi

Tidak mudah, tapi kita harus all out dalam meningkatkan lifting minyak dan mempercepat energi terbarukan.

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published.

Berita Lainnya