Bisnis Headline

Perubahan Frontal Wajah CPRO, Kontribusi Restrukturisasi Utang



single-image

INDOWORK.ID, JAKARTA: PT Central Potreina Prima Tbk. (CPRO) seakan bangkit dari kubur. Lima tahun rugi, bukan karena potensi bisnisnya kurang lukratif, tapi karena utang yang terlalu besar menenggelamkannya. Pernah mencatat DER 3.300%.

Investor Hasan Zein Mahmud menjelaskan bahwa saham itu tertidur lama di ranjang gocap. Akhir tahun lalu tiba-tiba menggeliat. Dahulu saya selalu menjauhi saham satu ini. Melirik karena tertarik. Peluang bisnisnya membentang. Tapi tidak mendekat, ngeri melihat tumpukan hutang

Kini ada perbaikan kinerja operasi. Tapi perubahan frontal wajah CPRO, dalam pandangan saya, nyaris sepenuhnya kontribusi restrukturisasi hutang

Bagi saya, penyelesaian utang CPRO nyaris menjadi suatu “keajaiban”. Akhir 2020 total kewajiban masih tercatat lebih dari Rp5,6 triliun dan DER masih bertengger di 749%

Sembilan bulan kemudian, pada LK 30 September 2021. hutangnya turun hampir Rp2 triliun menjadi tinggal Rp3,8 triliun dan DER menukik tajam ke 136%

Beban keuangan turun signifikan. Ekuitas naik luar biasa. Laba tahun berjalan naik dari Rp 381 miliar selama 2021 – to the moon – menjadi Rp2,118 triliun, untuk periode 9 bulan 2021. Ajaibnya, dari keuntungan itu, sejumlah Rp1,77 triliun bukan dari hasil usaha, tetapi dari keuntungan penyelesaian utang. Sekali lagi: keuntungan penyelesaian utang.

‘KEUNTUNGAN PENYELESAIAN UTANG’

Hasan Zein Mahmud

Dan ini bukan yang pertama kali munculnya pos unik itu dalam Rugi laba CPRO. Seingat saya, ini yang ketiga kali. Jujur, 42 tahun mengajar disiplin terkait investasi, membaca ratusan laporan keuangan, baru ini saya bertemu dengan pos berjudul “keuntungan penyelesaian utang”

BRMS pernah membukukan pendapatan dari pengurangan utang. Asal muasal mudah dicerna. Karena realisasi pengerjaan kontrak lebih kecil dari kesepakatan, maka nilai kontrak yang sudah dibebankan sebagai biaya, dimasukkan kembali sebagai pendapatan.

Tapi kalau perusahaan mampu memperoleh keuntungan semata dari penyelesaian utang, akan selalu muncul dorongan untuk berutang dan berutang lagi. lebih banyak dan lebih banyak. Tokh bisa jadi sumber keuntungan. (izin tertawa)

Kita tinggalkan saja “misteri laba dari penyelesaian utang” untuk dikaji kalangan akademis, agar mantranya bisa dimanfaatkan oleh emiten lain. Khususnya beberapa BUMN yang juga akan putus nafas tanpa bantuan ventilator dari negara.

Setelah bebas dari ancaman pembunuhan utang, saya mulai melirik CPRO untuk dilamar jadi anggota portfolio. Ada beberapa prospek dalam penerawangan

Pertama potensi pet food yang digeluti emiten sejak 2017. Bertumbuh dengan cepat dan punya potensi pertumbuhan besar.

Makanan olahan, bibit ikan, benur udang juga akan menyumbang potensi pertumbuhan tahun mendatang. Bahkan bibit unggul ikan nila – yang konon mampu meningkatkan produktivitas petani nila – mulai diluncurkan tahun ini

Dengan prospek positif itu, harga saham saat ini, menurut saya, murah. Bidak pertama sudah melangkah. Sembari berdoa semoga “maniak ngutang” bukan merupakan penyakit kambuhan.

Leave a Comment

Your email address will not be published.

Berita Lainnya